Dear Past, Thank You for All The Lesssons

There is no time to see backwards. Your future is still pure enough.

The only thing worse than being blind is having sight but no vision

When something bad happens, you have three choices. You can either let it define you, let it destroy you, or you can let it strengthen you.

Do You Know? You are Your Own Hero. Be Brave!

Don't die from a broken heart.

It is Never Too Late to be What You Might Have Been

If you were not happy with yesterday, try something different today. Don't stay stuck.

Things Work Out Best for Those Who Makes The Best of How Things Work Out.

Just believe in yourself. Even if you don't, pretend that you do, and at some point, you will.

If reading is HOT and writing is COOL. Therefore, read my writing is an awesome thing.

Kamis, 31 Maret 2016

Q & A

Rasanya udah lama banget kan ya gak nyentuh blog ini lagi. Janjinya sih pengen terus update tapi sayang waktu yang dipunya kebanyakan habis buat kuliah dan organisasi (halaaahhh sok sibuk :v)  Sekarang aku lagi nyantai karena emang gak ada jadwal kuliah dan gak ada keperluan organisasi juga yang mengharuskan aku buat melenggang ke kampus. Di samping kiriku ada tahu telor lontong yang masih utuh dalam bungkusannya. Beberapa menit yang lalu VancSyl nganterin titipin ku ini ke kamar. Tapi bukan itu yang bakal aku bahas untuk sekarang ini wkwk. 

Untuk yang kedua kalinya, aku ngadain sesi pertanyaan atau "Question and Answer". Seperti biasanya, di sesi ini aku bakal nanyain random ke kontak-kontak di hp ku, pertanyaan apa aja yang mereka mau tanyain ke aku. Terserah, bebas, sebebas aku mecintaimu.

Well, aku rasa udah basa-basinya. Soalnya udah mulai menjalar ke mana-mana sampai salah fokus.

Hal yang lucu adalah ketika mereka gak mau kasih pertanyaan ke aku. Katanya kek aku mau mati aja wkwk :v

Fyi, pertanyaan ini gak aku jawab langsung ke mereka, tapi hanya dibahas di sini secara rahasia. Jadi buat kamu-kamu yang baca ini, selamat!! Kalian baru baca 10 rahasia dari saya.

1. Stefani Fabiola Christy (Administrasi Bisnis Universitas Brawijaya 2014)
Apa yang paling kakak benci?
Stef, kenapa sih nanya hal yang paling aku benci? Kenapa gak nanya hal yang paling aku suka? Kan aku bisa jawab "kamu" #eh. Okey stef, jawabannya mungkin adalah, ketika aku merasa bersalah padahal aku gak salah. Kadang aku udah ngelakuin hal yang benar, udah jujur, tapi waktu pengen ngomong ke orang lain, aku kok bawaannya takut gitu ya? Takut dia mikir aku bohong. Takut kalau dia gak percaya. Dan itu adalah salah satu hal yang paling aku benci. Bodoh kan, Stef?

Satu lagi deh. Aku paling benci kalau pas lagi nyuci, trus ada kain yang luntur. Benci banget aku itu. Bisa sampe kepikiran seharian. Apalagi kalau lunturnya ke kain warna putih. Bunuh kaka aja, Stef.

2. Ira Selvia Butar-Butar (Ekonomi Pembangunan Universitas Jambi 2013)
Apa hal yang paling gak kau suka dari aku?
Kams, jujur aku mau jawab apa di sini aku gak tahu. Mungkin udah hampir 15 menit aku vacuum, ingat-ingat apa hal yang gak kusuka dari kau, dan aku belum nemu jawabannya. Saking cintanya aku samamu. Coba aja kau cowok, udah kutembak kau duluan (salah fokus lagi). 

25 menit kemudian....
Maaf kams, pertanyaanmu gak ada jawabannya, serius dah -_-

3. Sinta Ida Patona Sianipar (Teknologi Informatika Institut Teknologi Del 2013)
Bagaimana caranya agar pintar Bahasa Inggris?
Kayaknya si Sinta salah kasih pertanyaan nih. Harusnya pertanyaan ini jangan ditanyain ke aku yang notabene gak pintar Bahasa Inggris. Ya mungkin bisalah, tapi gak pintar juga, biasa aja kok. Jadi Sin, mungkin kau nanya ini ke aku karena kau sering lihat aku posting sesuatu yang berbahasa Inggris, atau ganti DP pake quotes, atau juga bikin PM pake Bahasa Inggris. Satu hal yang mungkin paling berpengaruh sama skill Bahasa Inggris ku adalah AEC. Ini adalah tahun ketiga aku jadi bagian di organisasi ini, organisasi yang udah aku anggap keluarga, rumah. AEC itu English Club yang ada di fakultasku. Di sana kami ngomong pake Bahasa Inggris, berkegiatan pake Bahasa Inggris, ikut lomba cabang Bahasa Inggris, routine class, dll. Mungkin ini yang udah banyak bantu aku buat ningkatin skill Englishku, tapi bukan berarti aku expert ya, Sin.

4. Gina Stevani Nainggolan (Akuntansi Universitas Katolik Medan 2013)
Kenapa kau makin cantik, Vetro?
Kata orang, jangan ketipu sama kamera. Belum tentu orang yang cantik di media sosialnya, sama cantiknya dengan aslinya. Gin, jangan ketipu juga sama foto-foto dedek ya. Dedek gak secantik yang kamu kira kok. Dedek mah masih biasa aja, sama kyk dulu. Kau belum lihat aja jerawatku yang sekarang. heuheu. Tapi makasih deh udah bilang aku makin cantik. Kau juga kok.

5. Dedy Pribadi Siagian (Teknik Mesin Universitas Brawijaya 2013)
Kau kenapa masih memilih jomblo?
Ada satu quotes yang menurutku bagus pake banget. "Use the opportunity of being single to love yourself and focus on making you a better person. If you're single, take advantage of it. Don't spend time wishing you had someone". Satu hal yang harus kau tahu Ded, punya pacar belum tentu bahagia kan? Apa yang kupunya sekarang ini, duniaku, teman-temanku, AEC, rasa-rasanya mereka semua udah bikin aku lupa sama status jombloku. Jujur aja, without AEC, I can't imagine how flat my life right now. Oh ya, Ded. Kenapa ya jadian sama orang yang beda agama itu salah? Kenapa jadian sama temannya mantan juga salah? Dan kenapa juga jadian sama mantannya teman toh salah? Karena yang datang dekatin aku sekarang, ya mereka yang katanya salah itu -__-

6. Heldha Oktavia Mega Puspita (Administrasi Publik Universitas Brawijaya 2013)
Apakah kamu menyukai Dimas?
Wkwk. Aku ngerasa lucu sih tiap kali ditanyain ini. Please deh, Hel. Aku tuh baru kenal Dimas di Espriex. Dan aku gak tau kenapa tiba-tiba semua orang nge-cie-cie-in kami berdua. Kalau kalian terus-terusan kyk gini sih, aku jadi segan kalau papasan sama Dimas. Suka? Mungkin suka sama senyumnya dia kali ya, haha.

7. Nofryzal Haloho (Ilmu Politik Universitas Diponegoro 2013)
Mau nikah di umur berapa?
Perlu dibahas lagi gak ya pertanyaan ini? haha. Soalnya di sesi pertanyaan yang pertama, Paulus udah pernah kasih pertanyaan yang persis kyk gini. Jawabannya Ijal, kalau aku emang udah ketemu sama pria yg tepat, pengennya sih secepatnya wkwk. Targetnya sih jangan lewat dari umur 25. Kenapa kau tanya? Ada rencanamu? wkwk.

8. Zackon Walnovalisius Pardosi (Ilmu Olahraga Universitas Negeri Medan 2013)
Nanti pas kau tamat dari kuliahmu, apa yang bakal kau lakuin? Dan kenapa kau pengen lakuin hal itu? Kalau seandainya gak bisa kau lakuin hal yang kau pengen itu, kau bakal lakuin apa?
Satu kata yang pertama kali muncul di pikiranku setelah menerima pertanyaanmu: "ASTAGAAAA" wkwk. Kita nobatkan ini sebagai pertanyaan yang paling formal dan menantang. Mungkin kalau aku udah tamat dari kuliah, aku pengennya langsung kerja. Gak usah nunggu lama lagi soalnya pengen cepat-cepat ngerasain gimana rasanya transfer duit ke ortu. Aseeeeekkkk. Trus pengennya sambil ngambil S2 sih. Dan kalau udah selesai, abis tu pengennya langsung nikah. Nanti rumah baru, perabot baru, semuanya harus aku yg ngurus. wkwk. Kalau gak bisa? Gak boleh, Val! Ini harus tercapai!

9. Bernandho Sitorus (Pendidikan Kewarganegaraan Universitas Negeri Medan 2013)
Aku kek mana menurutmu orangnya, Nel?
Well, aku disuruh ngedeskripsiin satu orang yang menurut aku baik tapi ngeselin. Dan ngeselin tapi baik. Aku jadi ingat Ask.fm nih, (Nel, tolong A-Z in aku dong) haha. First, kalau denger nama Bernandho, aku langsung ingat dia pernah ngasih aku cokelat di hari valentine pas bimbingan kelas XII lalu. Kami sebut dia tuyul soalnya dulu itu badannya masih imut-imut kecil. Kalau sekarang mungkin sebutannya udah ganti jadi gajah. Bernandho ini teman yang kadang suka alay. Sok perhatian. Bisa dibilang gatel haha (maaf ya ber kalau suatu saat kau baca ini :D) Tapi emang kenyataannya gitu kok wkwk. Dia suka banget yang namanya gombal gak jelas. Fansnya Sam Smith dan Ed Sheeran. Trs apalagi ya? Udah itu dulu aja ya. Heuheu

10. Hara Agum Gumelar Parhusip (Administrasi Bisnis Universitas Brawijaya 2012)
What is your life path? Short term, middle term, and long term?
 Hhhmmm. Agak nyesal juga nanya ke Bang Hara ini haha. Pertanyaannya bahkan lebih berat daripada pertanyaan si Noval. Sejujurnya, aku bukan termasuk tipe orang yang suka mikirin life path dan semacamnya. Karena aku lebih suka ikut aliran. Let it flow istilahnya. Mungkin kita permudah aja dengan jawaban yang singkat ya hehe. Jadi sorry kalau agak basi. My short term, aku pengen magang di salah satu konsultan pajak ternama di Surabaya. Semuanya harus berjalan dengan lancar mulai dari pengajuan, pelaksanaan, sampai laporan. Amiiinnn. My middle term, mungkin jalan hidup yang kudambakan sekarang ini adalah wisuda dengan predikat yang memuaskan. Dilancarkan semua mata kuliah yang sedang dan belum kutempuh. Dan untuk long term nya, aku pengen kerja yang bagus, jalan-jalan ke luar negeri, dan punya keluarga yang hebat. Amin amin amin.

Finally, selesai deh sesi tanya yang kedua. Terima kasih buat 10 orang hebat yang udah kasih pertanyaan-pertanyaannya. Selamat berjumpa di sesi pertanyaan ketiga, yang entah kapan, dan dengan siapa aja, dan dengan pertanyaan apa aja. Byeeeee :D

Rabu, 23 Maret 2016

Kamu

Kok kenapa rasa-rasanya aku selalu ketemu sama kamu?

Aku pas di parkiran, ketemu kamu.
Aku lewat mading, ketemu kamu.
Aku lagi di AEC, kamu datang berkunjung.
Aku lewat gedung D, lihat kamu di dalem.
Aku mau naik ke gedung A, katanya ada kamu di basement.
Aku mau ke toilet, kamu duduk di teras sekber.
Aku mau pesan makan ke kantin, kamu pas berdiri di depan pintu.
Aku mau pulang ke kosan, ketemu kamu di tempat makan.

FIA sesempit itu ya?

Btw mereka selalu sebut nama kamu loh tiap ketemu aku.
Mereka juga singgung-singgung nama kamu di grup chat kami.
Kamu tahu kenapa?

Selasa, 13 Oktober 2015

Karena bukan waktu yang singkat aku duduk sebangku denganmu selama 2 tahun

Bolehkah aku bilang bahwa aku begitu bahagia ketika kita berkomunikasi lagi di akhir bulan September kemarin? Itu membuatku seperti mengingat cerita masa SMA dulu. Untukmu yang aku tak ingin sebutkan nama, aku akan bercerita gamblang tentang semua perasaanku setelah kita pisah 2 tahun yang lalu.

Kalau melihat ke belakang, sebenarnya sangat tak adil kita bisa berpisah semudah itu. Hanya karena jarak. Atau bahkan hanya karena kebodohanmu. Ceroboh. Gengsi yang berlebihan. Dan dusta.
Terima kasih Tuhan sudah memberikanku kesempatan untuk menyampaikan rinduku kepada laki-laki ini.

Laki-laki yang mengakui kerinduannya setelah aku yang pertama jujur bahwa aku rindu. Dia mengaku gengsi, katanya sudah lama rindu tapi selalu dipendam. Takut kalau-kalau aku akan menertawai kejujurannya. Takut karena menurutnya, merindukanku adalah suatu kesalahan.  Takut karena sepengetahuannya, aku masih menjadi milik seseorang di sana.

Laki-laki yang tak percaya bahwa aku sudah sendiri selama setengah tahun lebih. Tapi aku heran. Mungkinkah kepercayaanmu kepadaku seburuk itu sayang? Karena tak mungkin aku terlalu berani mengakui kerinduanku kepadamu, lalu kemudian mengarang cerita bahwa aku telah putus dari kekasihku.

Tuhan, laki-laki ini tak banyak berubah. Masih saja mengutamakan gengsinya. Masih saja tak bisa bersikap dewasa. Tiba-tiba mengucapkan selamat malam hanya karena aku mengkritik leluconnya. Padahal aku masih ingin berbincang banyak. Nostalgia tentang cerita kami yang dulu, cerita yang begitu indah hingga akhirnya dia sendiri yang mengacaukannya. Membawa perahu kami menepi ke dermaga wanita lain.

Tapi jujur saja aku sudah memaafkan kesalahan itu. Ya, kesalahan. Dia sendiri pun mengakuinya. Dia bilang bahwa di dalam benak terdalamnya, saat itu dia tidak berharap ada yang namanya perpisahan. Dia berharap hubungan kami berhasil. Hanya saja, saat itu dia sudah tak bisa melakukan apa pun lagi. Bahkan untuk membela diri dengan embel-embel kata jarak. Karena dia tahu, seseorang telah berdiri di belakang kami, menggenggam senjata untuk membuat masalah semakin membesar hingga memisahkan kami berdua. Haruskah aku percaya? Atau layakkah untukku mengharap kisah itu terulang kembali? Aku sempat berpikir, “Jangan gegabah, Nel. Mungkin saja kamu sedang terbawa suasana kegalauan tengah malam. Bisa saja yang kamu rindukan bukan laki-laki ini, tapi hanya kenangannya.”

Perbincangan kami semakin mendetail terbawa arus nostalgia SMA. Hingga dia harus mengorek-ngorek alasan mengapa aku berpisah dengan laki-laki yang terakhir kali kupanggil pacar. Aku sudah memberitahu sebagian besar intinya. Tak ada gengsi. Laki-laki ini sudah terbiasa menjadi tempat curhatanku semenjak di bangku masa putih abu-abu dulu. Rasanya nyaman sekali Tuhan. Nyaman sekali menuangkan semua keluh kesahku kepadanya. Aku sempat bertanya apakah dia mengerti dengan semua penjelasanku, karena kata-kata yang kutuangkan sudah berjejer sangat rapi seperti deretan gerbong kereta api.

Jawabannya singkat. Singkat, padat, dan sangat jelas. Benar saja aku tersentak. Tak heran dadaku mulai merasakan sesak. Mataku mulai berkaca-kaca. Pikiranku langsung kacau, entah aku harus senang, terharu, atau galau. “Tak mungkin aku ragu. Karena bukan waktu yang singkat aku duduk sebangku denganmu selama 2 tahun,” Itu jawabannya. Itu pernyataannya yang membuatku sejenak kacau sambil terdiam mengimajinasikan masa-masa 2 tahun terindah itu. Aku hampir gila.

Tapi tunggu dulu sayang. Benarkah kau sudah betul-betul mengerti tentang siapa aku? Karena ada satu tonggak pernyataan yang gagal kau artikan dariku.  Saat aku bilang bahwa satu alasanku berpisah dengan mantanku adalah karena aku tak menemukan zona nyamanku di tengah teman-temannya. Lalu kau bilang kamu mengerti, karena aku tak nyaman dengan orang-orang baru. Salah sayang. Bukan itu. Jelas saja kau sudah salah.

Kemudian ada satu lagi. Laki-laki ini bilang dia menyesal pernah melakukan kesalahan itu, kesalahan yang menurut dia memang kesalahan besar dan bukan main-main. Hingga tak bisa tidur nyenyak selama sebulan. Menyanyikan lagu, memetik senar gitarnya seraya menyelipkan namaku di lembaran lirik lagunya. Tuhan, kenapa harus seperti ini pengakuan laki-laki ini? Aku ingin sekali menatap langsung pada matanya yang kurindukan itu. Memastikan rasa yang dia pendam, entah memang masih ada atau benar sudah pupus terbuang sempurna.

Tuhan, setidaknya aku tahu bahwa Kau mengerti apa yang terbaik pada masing-masing kami.

Harapanku hanya satu. Sederhana tapi rumit. Ubah mindset mu sayang, tanamkan pohon kedewasaan di dalam pikiranmu, pohon yang buahnya sudah matang, bukan lagi pohon yang selalu berbuah mentah dengan rasa gengsinya untuk berubah mendapatkan rasa terbaiknya. 

Selasa, 25 Agustus 2015

Insomnia is such an irritating habit. I could sleep very late, even until the sun will appear soon. Actually, it burden me so much. For example, it will be make me wake up very late, almost noon. Work at night, sleep at morning. Such as a bat. 

But in this moment, I wouldn't narrate a long story about my further insomnia. Because there is another story that suddenly i want to tell. It comes from my past. Yes, related to him. I have been taste insomnia since i was in senior high school. It means, i have had a boyfriend. That's funny. When I was insomnia, i texted him sometimes. Hope he still awake or he would be wake up. I still can feel it. A good mood when there was someone you love accompany you when you still awake because you can't sleep. An irritating moment change into a good. He brought me to a comfort zone. 

Can't you feel it? A "nice dream" word could save you from a bad mood. 

But something like that is just a memory, exactly! I don't think for getting him back, to change the situation, to return the time, or to crying this memory. I just remembered and think that it doesn't exist anymore in my life. But....

At least i have ever taste an attention from someone who we loved. 

Rabu, 19 Agustus 2015

For You, S

I feel sorry, but you always phone me when i didn't hold my phone. Just scared if you'll think that i have changed to be an arrogant. I have no pulse. That's why i didn't text you to ask your purpose. But how can i answer your call when actually i don't brave enough to talk to you? 

This is funny. Maybe you think that i have changed to be somebody that you used to know. Darling, that's not true. This isn't something that i want too. I am crying, sad, and worry. That's not easy to me. Do you ever blame me? Do you ever judge me when i didn't answer your call? Cause you didn't know the reason. 

I don't talk bullshit. That was a glad when i could see you sat in front of me. Then why i can't talk to you like i did to others? This is the whole point. Cause i didn't able to be my true self when you are there around me, or maybe i will never be able. 

Do you confuse? Cause i do. Acting like a kid? Yes i do. 

But if this make you blame me, judge me, and hate me, then what can i do?

Senin, 03 Agustus 2015

Hidup itu Keras, Hidup itu Sulit

Motivasi hari ini berjudul "Hidup itu Keras". Membahas mengenai bagaimana cara menjalani hidup yang baik walaupun faktanya hidup itu sendiri begitu sulit.

Setiap orang tentu ingin hidup dengan bahagia. Kita semua menginginkan hidup yang sempurna. Kita ingin pekerjaan yang mapan atau bisnis yang sukses. Kita ingin menikah dengan pria yang tepat atau dengan wanita yang sempurna. Kita ingin anak-anak yang hebat. Kita menginginkan sahabat yang selalu setia ketika suka maupun duka. Kita punya keinginan untuk mampu memenuhi setiap kebutuhan dalam hidup dan menginginkan agar semua permasalahan kita menghilang.

Setiap orang mengharapkan hidup yang baik. Mungkin pada tingkat keinginan yang berbeda-beda. Seseorang bisa saja menetapkan hidup yang baik pada satu kriteria dan yang lainnya justru mendeskripsikannya pada kriteria yang lain lagi. Seseorang mungkin menganggap bahwa hidup bahagia hanya jika dia bisa makan tiga kali sehari atau ketika dia punya atap rumah untuk melindunginya. Orang lain mungkin menganggap bahwa hidup bahagia apabila dia punya rumah besar dan uang berjuta-juta di bank.

Terdapat tingkatan dan makna yang berbeda-beda tentang apa itu arti hidup bahagia. Tapi apa pun anggapanmu, barangkali ada satu hal yang sama-sama kamu  rasakan dengan orang lain. Kamu ingin agar hidup bahagia itu bebas dari tekanan, rasa stress. Kamu menginginkannya tanpa harus bekerja atau berjuang keras untuk mendapatkannya. Hal tersebut merupakan harapan yang wajar dari seorang manusia pada umumnya. Tak seorang pun ingin capek-capek berjuang dalam hidup.

Sayangnya, hal itu pulalah yang akan menghentikanmu untuk mencapai sebuah hidup yang bahagia. Pikiran tentang semua pekerjaan, semua rencana, serta rintangan dan halangan yang datang, cukup membuat banyak orang menjadi cepat menyerah sebelum mereka memulainya. Hal tersebut dapat dirasakan begitu mengganggu, tapi bagi sebagian orang hal tersebut bukanlah rintangan yang cukup berarti. Sama halnya dengan terkurasnya tenaga hanya dengan pikiran kita dalam lomba lari maraton. Bahkan sebelum kamu berada di garis start, ketika kamu sudah berpikir bahwa maraton tersebut menakutkan dan akan melelahkanmu secara mental, saat itu juga sebenarnya kamu telah memutuskan untuk tidak mengikutinya. Terlalu sulit.

Salah satu buku favorit saya berjudul "The Road Less Travelled" oleh M. Scott Peck. Kalimat pertama dari buku tersebut adalah:

"Life is difficult."

Sekarang, apabila kamu membaca sebuah buku dan hal pertama yang dikatakan kepadamu adalah "hidup itu sulit", mungkin kamu akan langsung berpikir bahwa buku ini bertujuan untuk memberi keyakinan dan dorongan.

Akan tetapi, ketika Peck menjelaskannya lebih lanjut, sekali kamu menganggap bahwa hidup itu keras, itu tidak lagi menjadi masalah yang sulit. Dia mengatakan:

"Sekali kita mengetahui bahwa hidup itu sulit - di situ  pula kita benar-benar mengerti dan menerimanya - maka hidup itu tak lagi akan menjadi sulit."

Dalam hidup kamu akan menemukan banyak kesulitan dalam memenuhi semua keinginanmu. Sangat jarang untuk bisa mendapatkan sesuatu tanpa usaha. Hanya jika kamu memenangkan undian baru kamu akan mendapatkan sesuatu tanpa usaha, dan bahkan sebelumnya pun kamu harus pergi untuk membeli tiket undiannya, jadi sebenarnya itu pun tak benar-benar gratis secara keseluruhan.

Hidup itu keras - Boss mu tak akan selalu menjadi orang yang paling baik di dunia. Pekerjaanmu akan memiliki tantangan yang sebelumnya tak pernah kamu ramalkan. Terkadang rekan kerjamu akan menyakitkanmu. Kau tak akan selalu dapat gaji dan pengakuan yang patut kamu terima ketika bekerja. Klienmu mungkin saja orang yang paling menjengkelkan di dunia.

Hidup itu keras - Anak-anakmu tak akan selalu menjadi kriteria anak yang kau inginkan. Istri atau suamimu mungkin saja tidak sesempurna yang kamu pikirkan ketika kamu telah menikah dengannya - dalam kenyataannya saya bisa jamin hal tersebut benar. Rumahmu mungkin saja bukan kriteria rumah idaman yang kamu impikan. Kamu juga bisa saja bukan istri atau suami yang baik seperti yang pernah kamu pikirkan.

Hidup itu keras - Menjalankan sebuah bisnis bukanlah semudah yang selalu kamu bayangkan. Tak ada yang berminat mendatangkan uang pada bisnismu, meskipun kamu sudah mencoba semanis mungkin dan meskipun bisnismu sudah memiliki produk yang baik untuk ditawarkan.

Saya bisa saja terus lanjut dengan contoh-contoh ini, tapi intinya adalah bahwa "hidup itu keras".

Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa kamu tidak dapat memiliki sebuah kesempatan. Saya tidak mengatakan bahwa kamu salah jika berpikir bahwa kamu pantas akan sesuatu yang lebih daripada yang telah kamu dapatkan dalam hidup ini.

Saya tidak mengatakan bahwa kamu salah dengan apa yang kamu rasakan. Saya tahu itu terasa sulit. Saya tahu bahwa terkadang kamu merasa semua itu begitu membingungkan dan juga sangat rumit. Maksud saya adalah kamu harus bekerja lebih giat. Kamu telah melakukan semua yang kamu bisa dalam hidup baik itu di tempat kerja atau di rumah. Tapi terkadang tak berjalan sebaik yang telah kita rencanakan atau kita harapkan. Seperti ada yang salah dan kita tak tahu dan tak mengerti bagaimana atau mengapa.

Tapi tak mengapa. Itu merupakan hal yang wajar. Karena begitulah memang adanya manusia. Begitulah hidup. Hidup itu keras. Terimalah.

Sekali kamu lakukan, keadaanmu akan terasa lebih baik. Kamu tak akan berpikiran situasimu sebagai apa-apa lagi tapi merupakan apa yang semua orang alami. Lalu kamu akan berpikiran bahwa situasi yang sedang kamu hadapi adalah bagian dari kehidupan. Kamu tak akan lagi menyalahkan dirimu mengenai hal buruk yang terjadi atau bagaimana bisa kamu tidak berperilaku begitu baik dalam satu acara atau semacamnya. Kamu akan meyadari bahwa kamu hanyalah manusia biasa. Kamu membuat kesalahan seperti orang lainnya. Kamu tidak sempurna sama seperti yang lain.

Tapi jangan berhenti di sana. Menerima bahwa hidup itu keras tidak berarti kamu menerima setiap situasi dan kemudian begitu saja mengikuti alirannya.

Ada dua sisi dari cerita ini. Ada sisi lain dari koin ini. Satu sisi dari koin ini adalah ketika kamu melihat kata-kata "hidup ini keras" renungkanlah, tapi jika kamu membalikkan koinnya, ada tertulis dengan kecil 5 kata dengan arti yang begitu besar kuasanya. Mereka adalah:

"You can make it better"

Ini merupakan salah satu hal terindah dalam hidup. Kamu sendiri dapat membuat hidupmu menjadi lebih baik. Kamu punya tanggung jawab penuh atas apa yang kamu lakukan dan bagaimana responmu dalam menanggapi kenyataan bahwa hidup itu memang keras. Seperti yang dikatakan oleh Cliche:

"Jika hidup memberikanmu lemon, maka buatlah limun."

Menerima bahwa hidup memanglah keras sejalan dengan datangnya tanggung jawab untuk mengubahnya menjadi lebih baik. Bukan hanya tanggung jawab, melainkan pula kemampuan dan kekuatan untuk membuatnya menjadi lebih baik.

Kamu dapat membuatnya menjadi lebih baik - menjadi karyawan yang lebih baik dan seseorang yang lebih bertanggung jawab dengan pekerjaannya. Promosi dan upah yang lebih secara tidak langsung akan mengikuti entah bagaimana pun jalannya.

Kamu dapat membuatnya menjadi lebih baik - pelajari bagaimana membesarkan anak yang lebih baik dan mempunyai rumah yang lebih menyenangkan. Menjadi suami dan istri yang baik seperti yang seharusnya.

Kamu dapat membuatnya menjadi lebih baik - pelajari bagaimana memperbaiki bisnis. Tambahkan keahlian-keahlian ekstra yang kamu butuhkan untuk menjalankan sebuah bisnis yang sukses.

Tahukah kamu? Satu-satunya orang yang dapat mengontrol kehidupanmu adalah dirimu sendiri. Kamu tidak bisa mengubah orang lain. Misalkan saja pernikahan yang hanya sesaat. Saya tidak mengatakan bahwa kamu harus mengubah suami atau istrimu menjadi seseorang yang sesuai kriteria. Melainkan kamulah yang harus berubah menjadi suami atau istri ideal seperti yang seharusnya. Barulah setelah kamu menjadi pribadi yang baik, kamu akan punya banyak pilihan bagaimana cara berelasi yang baik kepada pasangannmu. 

Pertama-tama, apabila kamu sudah menjadi kriteria pasangan yang mendekati sempurna, pasangan kamu akan melihat perbedaan itu dan ikut pula merubah diri untuk menjadi lebih baik atau secara alamiah berubah sendiri karena pengaruh tingkah lakumu yang baru. Kedua, jika mereka tak berubah, mungkin kamu harus masuk pada tingkat kedewasaan sampai kadar kepuasaan mereka dan kesalahan-kesalahan mereka pun tak akan lagi mengganggumu. Atau yang ketiga, pada beberapa kasus, seperti hubungan yang kasar atau pada hubungan yang berisiko buruk pada kesehatanmu, kamu dapat memasuki level penerimaan dan keberanian di mana kamu mampu untuk meninggalkan pasangan yang kasar atau tidak setia seperti itu.

Apapun kasusnya, contoh ini mengilustrasikan satu lagi fakta penting tentang kekerasan hidup dan pengambilan tanggung jawab. Yaitu:

"You always have choices"

Tak peduli dalam situasi apa pun, kamu selalu punya pilihan. Seberapa buruk pun hal tersebut, kamu punya sebuah pilihan. Seberapa yakinnya kamu bahwa kamu berpikir kamu bisa atau tidak, kamu juga punya sebuah pilihan. 

Sekarang hal tersebut mungkin saja tidak mudah, dengan cara apapun. Mungkin merupakan pilihan yang sangat sulit dan jalan yang kau putuskan bisa saja begitu rumit. Hal tersebut barangkali mencampakkanmu dari zona nyamanmu. Mungkin saja karena masa dinimu lebih keras dari yang telah terjadi. Tapi itu pun adalah sebuah pilihan.

Seringkali kamu akan menemukan pilihan-pilihan yang tidak sesulit yang mereka pikirkan. Kamu hanya perlu menutup pikiranmu dari penglihatan akan pilihan dan kemungkinan tersebut karena kamu pikir tidak punya pilihan. Sekali kamu terbuka untuk menanggapi bahwa kamu bertanggung jawab terhadap hidupmu dan bahwa kamu punya pilihan-pilihan, kamu tidak akan tertekan berlama-lama karena kekerasan hidup itu. 

Intinya, hidup memang selalu keras, tapi kamu punya kata terakhir. Jadikan hidupmu menjadi lebih berarti dan lebih bertujuan.

Terjemahan dari MOTIVATION FOR DREAMERS, "Life is Hard, Life is Difficult": http://www.motivation-for-dreamers.com/life-is-hard.html

Kamis, 28 Mei 2015

Essay for Applying XL Future Leaders 2015 (dibuang sayang)

Saya bergabung dalam kepanitiaan acara English Parade 2015. Itu adalah sebuah kompetisi Debat Bahasa Inggris Nasional yang diselenggarakan oleh organisasi saya di fakultas, Administration English Club. Dalam kepanitiaan tersebut, saya menjabat menjadi seorang koordinator dari divisi LO (Liaison Officer). Divisi ini sendiri adalah suatu divisi yang disebut-sebut sebagai divisi paling berpengaruh dan merupakan cermin dari seluruh panitia English Parade. Tugas LO antara lain adalah memoderatori dan membawa jalannya proses debat. Karena kami adalah panitia yang berhadapan secara langsung dengan para debater-nya, itu mengapa kami disebut sebagai cermin dari kepanitiaan ini. Divisi LO merupakan divisi yang mempunyai staf yang paling banyak. Saya sendiri mempunyai 16 staf yang harus saya latih selama kurang lebih 2 bulan. Memimpin banyak anggota ternyata sedikit banyak mempunyai tantangan. Banyak suka dukanya di sana. Tetapi yang paling saya rasakan justru tentang sukanya. Saya banyak memetik pelajaran dari sini. Semuanya bukan hanya bercerita tentang usaha saya dalam melatih kecakapan mereka menjadi seorang chair person atau time keeper dalam suatu sesi debat, melainkan tentang kebersamaan. Lebih banyak saya menganggap mereka sebagai anak, bukan sebagai staf. Saya merasa bahwa mereka adalah tanggung jawab saya. Satu minggu sebelum acara berlangsung, saya harus pergi ke Depok untuk mengikuti kompetisi Newscasting di UI, dan terpaksa meninggalkan mereka, yang seharusnya malah di satu minggu terakhir inilah latihan mereka diperbanyak. Keputusan akhirnya adalah saya mengkoordinir mereka untuk simulasi tanpa saya dengan terus memantau perkembangan mereka di sela-sela kesibukan saya di Depok. Saya pikir menjadi seorang pemimpin itu bukan hanya tentang bagaimana usaha kamu untuk mencapai tujuan kelompokmu, tapi juga tentang bagaimana kamu bisa bertanggung jawab dan berbaur sebagai satu kesatuan tim yang utuh.

Selasa, 26 Mei 2015

Bahkan tak kukira aku akan sebaik ini setelah masa itu beranjak pergi dari benakku

Mungkin memang kau masih menginginkanku untuk kembali. Kau berpikir untuk mengulang kisah kita dan berharap semua kenangan itu bisa kita terjemahkan lagi untuk hari ini, esok dan selamanya. Tapi cara yang kau ciptakan begitu buruk sayang. Kupikir kau belum bisa mengerti apa yang kumau, atau malah tak akan pernah bisa. Kau memperlakukan masa itu dengan begitu baik di awalnya. Hingga aku merasakan sendiri pahit yang kau bawa ketika akhirnya kau kikis habis semua rasa pedulimu padaku. Aku tak bisa pertahankan. Ketika semuanya berubah menjadi sebegitu buruknya, bukan saja aku merindukan semua kasih dan sayang itu, tapi aku juga mengasihani diriku sendiri. Yang selalu merasa tak diistimewakan lagi olehmu yang dulu selalu memperlakukanku betul dengan sangat baiknya.

Aku tak mau sia-sia. Hanya itu saja. Kau bahkan tega melakukannya tepat di depanku. Di mana bentuk penghargaanmu padaku?

Tapi tak seperti ini sayang. Kau terlalu banyak memuji dirimu. Dengan semua yang pernah kau berikan dulu, kau pikir itu begitu menjamin perasaanku untuk selalu tak bisa beranjak darimu. Bangun sayang. Kau terlalu egois. Kau coba menyombongkan semua yang kau punya. Berharap bisa memenangkan kembali hatiku tanpa kau coba memahami seperti apa keadaanku saat ini tanpamu.

Hidupku sudah berbeda. Aku sudah berbeda sayang. Kau yang meminta ini. Kau yang menciptakan semua ini. Kau bilang kau ingin aku untuk menjadi lebih kuat. Tak lemah saat kisah itu memang akan lenyap seperti yang kau maksudkan. Sepertinya kau tak menyangka aku bisa berlari secepat itu untuk kemudian bisa bangkit dan pergi melarikan diri dari bayanganmu. Kau salah besar sayang.

Aku bahkan tak pernah mengira bahwa aku akan baik-baik saja setelah semua itu terjadi. Sejak malam di hari sabtu itu. Kekhawatiran pertamaku kemarin adalah tentang siapa yang akan menggantikanku. Tentang siapa yang akan menjadi pasangan barumu. Kau tak pernah tahu selepas apa air mata yang kutangiskan karena terbawa arus pikiran itu. Sementara mungkin di saat itu tak banyak kau memikirkanku. Lebih sibuk sendiri dengan teman-teman dan duniamu. Ya, dunia selain diriku. Sekarang aku berbeda sayang. Aku bukan yang dulu lagi. Seluruh kalut yang pernah ada dulu, mereka sudah pergi digantikan oleh tawa lepas bersama dunia baruku. Kini aku tak takut sendiri lagi. Bahkan telah kunikmati dengan mantab hidupku kini. Kesibukanku, teman-temanku, perjalananku, mereka semua lebih menarik perhatianku ketimbang bayanganmu.

Silakan beranjak mundur. Aku tak harapkan kau terus menunggu di gerbang penantian itu. Cari yang ingin kau cari. Lakukan yang kau suka. Semuanya akan lebih baik tanpa kekanganku lagi. Tanpa kuperingati lagi bahwa aku tak suka dengan apa yang kau rasa menarik. Kau yang putuskan jalanmu kini tanpa harus sedikit pun aku akan turut campur tangan dengan pilihanmu sendiri.

Aku tak mau banyak hal akan terjadi dengan resiko yang lebih besar. Perbedaan itu terlalu sukar untuk kita berdua rubuhkan jika prinsip kita berdua sama-sama teguh dan tak ingin mengalah. Akan ada saatnya sayang, kita akan bertemu kembali tanpa ada rasa dalam benakku untuk memilikimu lagi, atau sekedar untuk menyentuh tanganmu lagi.

Terkadang aku rindu. Tapi aku tahu pasti apa yang kurindukan. Setelah sekian lama aku belajar mengiklaskan, aku betul paham bahwa bukan dirimu yang dibawa datang dalam masa kerinduanku itu. Tapi kenangan. Cuma kenangan itu.

Senin, 23 Februari 2015

Tak pernah bercerita, mungkin itulah salahku!

Bukan karena kami saling menyurangi. Bukan karena perempuan atau laki-laki lain yang kami cintai. This is a complicated case. Kadang aku gak mengerti sama semua jalan cerita ini. Kenapa awalnya semua terlihat baik-baik saja tanpa setitik cela? Tanpa ada luka? Aku pikir masalah kita sekarang adalah komunikasi yang buruk. Akhirnya aku tahu setelah empat bulan atau lebih kita sudah lama tak saling beri kabar. Hal terparah yang kurasakan bahkan tak ada sapaan di hari Natal dan Tahun Baru. Oh Tuhan aku cuma dapat satu pesan broadcast. Keadaan yang memburuk di antara kita tidak sengaja mengajarkanku untuk terbiasa tanpa kehadiranmu. Apa pun itu. Mulanya aku masih berapi-api saat mendengar namamu disebut. Sampai akhirnya di satu tahun anniversary kita pun aku sudah tak merasakan apa-apa. Mungkin aku terlatih. Mungkin sudah sampai pada puncaknya. Panggilan di ujung telepon yang kuterima rasanya sudah sangat biasa saja. Tapi apa kamu pernah tahu itu? Tidak kan?

Selain tak mengerti pada jalan pikiranku sendiri, jujur aku pun tak mengerti lagi semua tentang kamu. Siapa kita? Aku bahkan tak mengingat lagi bagaimana dulu kau mengejar-ngejarku. Apa betul aku yang egois? Apa aku memang selalu salah menyikapimu sehingga kau selalu bilang aku tak pernah bisa menerimamu seperti apa adanya? Sayang aku cuma pengen yang terbaik untukmu. Bukan untuk menghalang-halangi kebahagianmu tapi sedikit saja tolong mengerti posisiku juga. Mungkin aku yang salah. Aku telah tak berhasil memenangkan hatimu. Aku tak cukup hebat dan tak cukup menarik ketimbang hiburanmu. Ketimbang teman-temanmu. Seperti aku bukan apa-apa kan? Kupikir waktu yang kau punya harusnya lebih banyak untukku. Bukannya kau habiskan dengan duniamu sendiri sehingga selalu lupa mengabariku.

Seseorang bilang kau akan datang ke sini dengan tujuan utama untuk menjumpai aku. Tidak, aku tak pernah percaya itu. Bagaimana bisa itu memang tujuan utamamu saat kau sudah sampai di sini pun aku tak tahu? Surprise huh? Kurasa tidak ada surprise. Semuanya hanya untuk liburanmu. Semuanya hanya untuk teman-temanmu. Tak ada sisa waktu untukku.

Miris. Malam itu aku memaksakan pulang ke Malang saat sedang berada di Paralayang dengan teman-temanku. Aku pikir kita bisa ketemu. Sampai sekarang aku jamin kamu belum bisa menebak kenapa aku membatalkan janji di malam itu kan? Bukan karena aku tak mengerti dengan diriku sendiri. Tapi karena aku tak berani ambil resiko. Pasti aku tak akan menemukan zona nyamanku di tengah teman-temanmu. Mungkin tangisanku saat itu lebih menyalahkan diriku sendiri. Aku tak cukup berani merebut perhatianmu dari mereka. Teman-temanmu telah mencurimu dariku. Meskipun aku tak pernah bilang. Dan memang itulah salahku. Tangisanku, semua air mata itu jelas untuk diriku. Untuk semua kebodohanku.

Perjalanan ke Bromo kupikir akan memperbaiki semuanya. Memelukmu dalam dingin adalah sesuatu yang sampai saat ini membuatku sulit bernafas ketika tiba-tiba aku mengingatnya kembali. Mungkin aku sedikit beruntung tak ada foto kita yang kubawa pulang. Setidaknya agar aku sedikit tertolong dalam proses melupakan kita. Hhhhhh.... Aku bahkan tak tahu kenapa terasa sangat canggung menyebutkan kata “kita”. Beristirahat di bahumu. Oh Tuhan seandainya aku bisa mengulang itu kembali. Jujur aku rindu. Aku betul aku rindu. Meskipun saat kau membaca ini kau pikir aku membencimu, tapi tidak, aku justru lebih banyak menyalahkan diri. Aku lebih banyak salah. Aku tak pernah bercerita. Terlalu tertutup mungkin.

Sayang aku selalu bilang aku seorang wonder woman. Ingat kan? Tapi bisakah kau memahami bahwa aku tak sesuper perkataanku? Aku punya banyak kelemahan dan tak pernah kau bertanya tentang apa yang kurasakan, apa yang kumau. Coba ingat berapa kali aku pernah menolak ajakanmu. Tak pernah. Aku bahkan selalu mengedepankanmu di setiap kepentinganku yang lain. Sayang aku juga punya teman. Bukan aku tak sayang terhadap teman-temanku. Jangan berkata lagi, karena mereka seperti keluarga untukku. Tapi aku juga bisa menganggapmu penting di depan mereka. Bahkan terkadang membela kepentingan kita. Membagimu waktuku di atas waktuku dengan mereka. Seandainya aku bisa mendapatkan yang seperti kulakukan untukmu itu darimu. Tapi aku tahu semuanya sudah tak ada arti.

Aku ingat pertama kali kita saling sepakat untuk memutuskan hubungan. Hujan turun begitu derasnya. Dan seminggu yang lalu itu pun terulang kembali. Malam minggu cuma sekedar nama. Valentine juga cuma sekedar simbol. Hujan-hujan kau menjemputku ke kosan dan entah perbincangan apa yang kita bicarakan itu aku pun tak tahu. Yang kutahu aku ragu dengan kita setelah kau berikan gambaran masa depan yang kau mau. Sangat jauh dari apa yang kuinginkan. Tapi kamu yang pertama menawarkan perpisahan. Mencoba menahanmu sehingga setidaknya kita bertahan sampai hari valentine itu berlalu. Dan aku tahu aku tak pernah berhasil membujukmu. Selalu gagal memenangkan hatimu. Sabarlah sayang, setidaknya kau tak membuat valentine setahun yang lalu begitu berbanding terbalik dengan valentine tahun ini. Jadi karena memang aku sudah tak bisa menahan, kemudian apa lagi? Ya sudah kita sampai di situ. Ada yang ingin kau katakan lagi?


Rasanya baru semalam itu aku memandangimu tertidur lelap di pangkuanku. Rasanya masih bisa kurasakan bagaimana piawainya jari-jariku memainkan helaian rambutmu. Tapi sekarang semuanya tinggal memori. Memori yang akan kusimpan sendiri sampai kau akan temukan pengganti. Baru mungkin aku akan menghapusnya perlahan. Atau bahkan terserah pada waktu, karena mungkin aku memilih untuk selalu menyimpannya untuk diriku sendiri. Jadi pilihlah yang tidak sepertiku. Carilah yang bisa memenangkan hatimu. Dan berilah waktumu seperti kau menganggapnya yang terpenting dalam hidupmu. Mungkin aku akan tetap di sini. Mencoba menyendiri dulu untuk kemudian bisa terbang dan lalu seseorang akan temukanku. Seseorang yang bisa menciptakan zona nyaman untukku. Yang tahu aku butuh waktu darinya dan yang mengerti aku tak setegar yang selalu kupura-purakan. Anyway, thanks :’)

Minggu, 01 Februari 2015

20 IF

1. If you feel you never can against your ego, always waiting for them to text/call you first, without having no idea to do it first. Is that what you call as LOVE?
2. If you feel never so comfort for being beside them again. Is that what you call as LOVE?
3. If you always feel jealous of them even if the reason is their careers or their family. Is that what you call as LOVE?
4. If you remember for your previous nights and you always having dream for all nights, but you never dreaming about them again. Is that what you call as LOVE?
5. If you never feel so happy and think too hard so that you can enjoy every minutes you join with their group, but it never works.  Is that what you call as LOVE?
6. If you able to ignore them when you are enjoying your life with your groups, your friends.  Is that what you call as LOVE?
7. If you always forget them because the reason is your hobby.  Is that what you call as LOVE?
8. If you promise them for fucking bulshit.  Is that what you call as LOVE?
9. If you always make them crying because of you.  Is that what you call as LOVE?
10. If you never realize that you always ignore them who worry about you.  Is that what you call as LOVE?
11. If you realize that they exist in your life, but you do something that make as they never being exist in yours.  Is that what you call as LOVE?
12. If you always show everything that they don't like in front of their eyes.  Is that what you call as LOVE?
13. If you feel you can't give in for them.  Is that what you call as LOVE?
14. If you feel you don't trust them as much as before.  Is that what you call as LOVE?
15. If you feel you have many doubts for them.  Is that what you call as LOVE?
16. If you feel you can't treat them as well as your best like before.  Is that what you call as LOVE?
17. If your friends ask you, "Where are them?", "When will they come?", "What happend to them?", "Whats goin on with you and them?" but you always say "I don't know" or "Whatever".  Is that what you call as LOVE?
18. If you start for feeling lazy to talk about them.  Is that what you call as LOVE?
19. If you can't express for being yourself as long as with them.  Is that what you call as LOVE?
20. If you always try to make them jealous about you.  Is that what you call as LOVE?