Dear Past, Thank You for All The Lesssons

There is no time to see backwards. Your future is still pure enough.

The only thing worse than being blind is having sight but no vision

When something bad happens, you have three choices. You can either let it define you, let it destroy you, or you can let it strengthen you.

Do You Know? You are Your Own Hero. Be Brave!

Don't die from a broken heart.

It is Never Too Late to be What You Might Have Been

If you were not happy with yesterday, try something different today. Don't stay stuck.

Things Work Out Best for Those Who Makes The Best of How Things Work Out.

Just believe in yourself. Even if you don't, pretend that you do, and at some point, you will.

If reading is HOT and writing is COOL. Therefore, read my writing is an awesome thing.

Rabu, 27 Juni 2018

I once asked for someone to save me. Then God sent you. Now I hope this would be the right time to start the second chance.

Kamis, 21 Juni 2018

Galau-in Kebaya Wisuda

Jadi gini, aku mau cerita soal persiapan kebaya wisudaku nanti. So, one of the reason kenapa aku harus pulang setelah yudisium adalah karena aku pengennya bikin kebaya di Balige aja. Gatau kenapa, aku paling hati-hati banget sama urusan si kebaya ini, entah karena ini adalah pertama kalinya aku bakal jahitin kebaya, entah karena kebaya ini akan dipakai di satu momen paling spesial di perjalanan hidupku, atau karena aku memang takut bakal gak cocok pakai kebaya (soalnya aku kecil banget tsaayyyy, takut jelek kalau pake kebaya -_-).

Salah satu temanku bilang, "Nel, jangan jahit kebaya di sini (di Malang), gak bagus. Aku aja nyesal. Kalo bisa jahit kebaya di kampung, jahit di kampung aja." Berhubung aku adalah tipe orang yang paling gampang terpengaruh dan overthinking, oke aku memutuskan untuk pulang ke Balige setelah yudisium. Jahit kebaya wisuda harus di Balige. And luckily, bapak dan ibu bendahara dari Balige setuju-setuju aja dan gak kasih kritik sama sekali.

Dulu, aku selalu berencana agar kebaya wisudaku nanti berwarna pink. Ya you know me lah, that's my favourite colour. Teman-temanku juga sering tebak-tebak sendiri, "Si Nella pasti pas wisuda nanti kebayanya warna pink." Dan yaaa, dulu aku memang bercita-cita seperti itu. But, it's changed. Makin dekat ke tanggal wisudanya, aku justru lebih aware dan hati-hati dalam pemilihan warna si kebaya itu.

Januari lalu, aku kan sempat pulang juga. Di situ mama dapat lumayan banyak hadiah kain kebaya dari murid-muridnya yang tentunya punya warna yang bermacam-macam. Aku sempat lihat-lihat juga, dan waktu itu aku tertarik sama warna dark blue dan satu lagi warna pastel gitu deh. Bapak bilang yang dark blue kyk nya ke-tua-an, so karena itu aku jadi lebih prefer ke yang pastel.

Februari awal, aku balik ke Malang. Thank God, gak butuh waktu lama lagi aku acc sidang. Setelah itu, April aku yudisium. Abis ngurus semua keperluan wisuda dan udah terdaftar jadi calon wisudawan, aku langsung balik lagi dong ke Balige. Pas udah di Balige, aku tanyalah ke mama soal kebaya pastel yang kemarin itu, eh, kebayanya udah gak ada, soalnya udah dikasih ke oppung sebagai hadiah ulang tahunnya. Oke it's fine, kata mama kan masih bisa beli di toko kain kebaya.

Semakin dekat ke perkiraan tanggal wisuda, mama udah mulai sering-sering ngajak aku ke toko kain kebaya. Tapi selalu aku tunda karena aku belum bisa memastikan bakal pilih warna apa (asli ribet banget). Belum lagi mikirin warna sarungnya,  warna lontorsonya, pake tile apa enggak, dll. Jadilah aku men-stalking beberapa akun inspirasi kebaya di ig, youtube, dan google. Dan itu ya Tuhaaaaannn, gak satu pun yang menurutku langsung berasa cocok. Mama marah lah, katanya menurut mama semuanya bagus-bagus aja, aku doang yang terlalu lebay. Lagi-lagi, entah itu karena aku terlalu hati-hati atau karena aku emang gak terlalu ngerti karena ini kali pertama aku bakal bikin kebaya.

Setelah banyak pertimbangan, aku mulai mensortir beberapa warna dan model kebaya yang menurutku paling ku suka (kalo gak salah ada 4). Pertimbanganku adalah, aku pengennya kebayaku nanti bisa shining gitu dech, so aku lebih fokus ke warna-warna terang seperti kuning dan putih. Tapi kalo dipikir-pikir lagi, kayaknya kalo warna putih ntar aku jadi kelihatan kyk pengantin, oleh karena itu aku eliminasi warna putih. And at the end, aku memutuskan untuk benar-benar memilih 1 warna sekaligus modelnya juga. It's yellow, tapi kata si penjual kain dan si tukang jahit, kain kebayaku itu lebih ke warna pucuk pisang. Gak ngerti deh.

Tapiiiiii, setelah aku beli itu kain kebaya, dan setelah aku ke tukang jahit buat ukur badan, rasanya kok aku takut banget si warna kebaya itu nantinya bakal gak cocok buatku. Beberapa orang juga serasa kyk mematahkan semangat. Misalnya, adekku yang cowok-cowok bilang itu kyk warna kebaya oppung-oppung (ngeselin bgt sumpah), adekku yang cewek bilang kok kenapa aku gak tanya-tanya dia dulu sebelum pilih warna kebaya (emangnya elo siapa!), nantulang Bin bilang harusnya pilih warna merah dan tangannya jangan yg panjang (padahal aku pilih tangan panjang). Tau deh!. Aku mulai kepikiran dan sering komplain ke mama (soalnya pas di toko kain, mama dan si penjual sependapat bilang warna itu paling cocok buatku). Bapak juga sampe bela-belain searching warna kebaya itu di internet dan nunjukin ke aku, katanya bagus kok, pasti cocok. Tapi tetap aja aku masih gelisah. Plis jangan sampe jelek.

Nah, tadi siang, aku sama mama pergi ke tukang jahit, soalnya si tukang jahit udah wa ngasitau kebayanya udah selesai. Jeng jeng jeeenngggg, I thought it's not so bad. Tapi coba tebak! Kebayanya ke-gede-an dooonggg wkwk. Si tukang jahit bilang ukuran badanku banyak berkurang dari waktu pertama kali diukur waktu itu. Aku cuma bisa ketawa. Si tukang jahit sampe stres karena otomatis dia harus kerja dua kali buat mengecilkan ukuran kebaya itu supaya ngepas di badanku. Mama mulai ngomel-ngomel kembali, mengkritik katanya aku malas makanlah, katanya aku kalo makan terlalu sedikitlah, katanya aku kurang pergerakanlah, dll. Jujur aja sih, pertama pulang ke Balige kemarin semangat makanku tinggi banget. Tapi gatau akhir-akhir ini kok semangatnya agak hilang gitu, gatau deh. Nah jadilah ukuran kebayanya gak sesuai lagi (maafkan daku tukang jahit hehe). Soooo, berhubung 3 hari ke depan kami bakal ke Sibolga, jadinya kebaya itu nanti bakal dicoba kembali hari senin, semoga aja udah sesuai sama ukuran badanku.

Plis, plis banget, plis banget jangan mengecewakan dan semoga shining di hari wisuda nanti ya. Heuuu.

Rabu, 20 Juni 2018

Home

And he is here.
He is here like he used to be.

He is the reason why i shouldn't be affraid anymore. He would be the one who will always there in my every story. When i hear a love song, the very first thought that i have in my mind would be him. He would be the one who will always there in my every prayer. He would be the one where i have to pour my feelings. He would be the one who aim my longing.

He is my home.

Because he is here.
He is here just like he used to be.
And i will always be here, here for him.

Sabtu, 14 April 2018

i have a plan to escape from him.
but he always text me.
so what can i do?

Senin, 09 April 2018

hai, apa kabar?
aku tak akan mengganggu.
justru akan senang jika kau bahagia dan baik-baik saja.
tapi tolong, setidaknya jangan menghilang,
tetaplah berada di sekitarku.

Jumat, 16 Maret 2018

If this is love, why does it break me down?


You came very suddenly. I’m happy anyway. And we are close again, as before that was ever delayed. To be honest, I feel comfortable with our talks. You said that you will always waiting for me. The problem is, I’m still afraid to make my door wide open. Fear to do wrong. I don’t want to be reckless and make many people blame our decision.

Funny. And yet you still have someone in your heart at that time. Though you said your relationship was on the edge, but come on, she still  your love. Do not assume that something real is not real. 

A few days later, that relationship that was on the edge is really over. You said because you’re tired of fighting. Well I try to understand.

Your relationship was over. And after that I know that you want me. You know what? I have really thought to accept you and trying to face all my fears. But, in the end, I couldn’t see you as a person that waiting for me. But as a person who was putting me down as an option that is not the only one.

Eventhough I was ever truely believe you. But someone like you, I don’t want it. Your treatment, your attention, your words, it’s not just me who accepts something like that right? There’s someone else you treat the same. It means you are not serious. Have you ever serious? And I don’t like things that are not serious.

Where do I know? It doesn’t matter. The way I get that information is really a magical coincidence. I know. I do know what you are talking about with someone else besides me. And everything is almost exactly the same. It makes me feel that I’m never very special for you.

After I was indifferent (because my heart has been destroyed silently), now you have a new relationship. Its oke. I’m not sorry at all. Not disappointed. For sure.

You said “when you pull the trigger and release it, soon the bullets shot away too. Nothing wrong. That’s a rifle.”

So you think yourself as a rifle? Because I never know that you are a rifle. I used to know you were a gentleman with a rifle. That gentleman, it was not you. You are just the rifle. And it’s not me who pulls the trigger, babe. It was you who are releasing your bullet and kill me right in my heart.

Selasa, 16 Januari 2018

Banyak yang tanya selama ini ke mana aja?

Gak semua orang di sekeliling kita sih yang bisa sepikiran dengan kita. Bahkan mereka yang kita anggap dekat aja kadang berpikir kalau kita gak ngambil jalan yang tepat sesuai dengan yang mereka pikir benar. Mungkin di postinganku sebelumnya, aku udah jelasin gimana halangan dan perjuangan yang sedang aku hadapi sekarang mengenai skripsi. Banyak yang mengerti, banyak yang paham betul bahwa itu gak mudah. Tapi masih ada aja beberapa orang yang menganggap halangan-halangan itu sebetulnya datang dari saya sendiri. Mereka menganggap sayalah penyebabnya. Saya berterima kasih sekali buat semua yang udah coba mengerti, kasih pemahaman, dukungan dan doa. Dan buat yang tidak bisa mengerti, baiklah, saya yang akan coba mengerti kalian. Bahwa mungkin kita punya pandangan berbeda yang tak bisa dipungkiri.

Garapan skripsi saya sudah berusia lebih dari satu tahun. Di saat saya sedang merayakan satu tahun tersebut dengan kesabaran, saya harus menerima bahwa teman-teman seperjuangan saya di sana justru sudah punya penghasilan. Sekarang saya sudah lebih kuat dibanding saat-saat pertama di-PHP-in dosen. Dulu saya sering nangis. Gak peduli lagi sama rasa malu ketika harus dilihat sama teman-teman kosan sehabis pulang dari kampus karena lagi-lagi kecewa sama dosen. Mungkin merekalah saksi seberapa sering saya pergi ke kampus dan pulang dengan sia-sia. Ya, selain teman-teman bimbingan yang juga senasib dengan saya. 

Dengan semua yang udah aku lalui, sedih sih, ketika masih ada beberapa orang yang bicara tidak baik tanpa tau yang sebenarnya. Beberapa bulan yang lalu, aku pergi ke Bandung. Kuakui, sangat aku akui, bahwa tujuanku ke sana memang untuk liburan. Dan posisinya pada saat itu aku memang gak punya jadwal bimbingan. Aku sedang tidak bisa bimbingan karena beberapa alasan yang logis. Haruskah semua detail apa yang terjadi kuberitahukan ke semua orang? Sedih, ketika liburan ke Bandung itu, aku dengar beberapa orang yang menyayangkan kepergianku. Beberapa orang yang menyalahkan saya karena dianggap terlalu berani untuk pergi berlibur dan meninggalkan skripsi.

Maksudnya gini lho, aku cuma orang biasa yang butuh rehat beberapa waktu tanpa berniat sedikit pun untuk menelantarkan si skripsi itu. Karena posisinya pada saat itu memang sedang memungkinkan untuk aku pergi, berhubung gak ada jadwal bimbingan buat aku pada saat itu. Toh kalau aku di Malang, aku juga gak bisa temui si dosen. Orangtuaku malah yang ngasih ijin buat aku berangkat ke Bandung, dan di sana pun aku menjumpai keluarga, yang notabene adalah adikku sendiri. Tapi sedih ya, ada omongan-omongan orang di luar sana yang langsung judge aku tidak peduli sama tanggung jawab skripsi hanya karena berdasarkan foto-foto dan snapgram yang aku post di instagram. Apa orang yang skripsian gak boleh liburan? Orang yang skripsian gak boleh posting instagram ya? Sedih sih sedih.

Nah, sejak saat itulah ke-ansos-an ku dimulai. Rasanya gak adil banget kalau orang lain bisa segampang itu menilai kehidupan kita hanya dari postingan yang ada di media sosial. Akhirnya aku memutuskan untuk uninstal instagram, memutuskan offline untuk waktu yang lama. Kehidupan dunia online berat. Sangat tidak sehat. Omongan orang bisa segampang itu membuat aku down, kepikiran, jujur aja.

Bulan November, mama mulai tanya-tanya apa aku pulang atau gak. Satu setengah tahun. Satu setengah tahun sudah aku gak pulang ke rumah dan katanya mama rindu. Aku selalu bilang, aku belum bisa pulang, jaga-jaga kalau semisal ada keajaiban dan aku bisa bimbingan ke dosen. Beruntung aku punya keluarga yang mengerti dan tidak pernah memaksakan aku harus buru-buru kelar. Mereka selalu bilang Tuhan punya rencana. Awal Desember, bapak minta kami semua pulang ke rumah. Bapak rindu tahun baruan di kampung, di rumah oppung di Sibolga. Dan itu perintah. Bapak bilang itu perintah buat kami semua. Untuk itu, aku memilih keberangkatan tanggal 30 (akhir bulan banget), lagi-lagi, untuk jaga-jaga siapa tau bisa bimbingan ke dosen. Dan lagi-lagi pula, beberapa kali aku mencoba menghadap dan pulang dengan sia-sia. Sempat nyesal juga, kalau tau gitu, mending aku pulang sebelum tanggal 25 supaya bisa natalan di rumah. 

Sebelum kepulanganku, aku sempat berpikir, aku ke Bandung aja dikatain, apalagi pulang ke rumah. Dan benar, omongan-omongan itu datang lagi. Ada orang yang menyalahkan kepulanganku padahal skripsi belum kelar. Tapi kali ini aku lebih santai sih. Orang mau bilang apa juga silakan. Tapi sedih juga hehe.

Setelah ke-ansos-an ku yang meninggalkan instagram dan banyak pc line yang gak ku read, sekitar 4 bulan setelahnya, aku mulai coba login ig lagi. Postingan pertama yang ku upload setelah 4 bulan offline, menghasilkan banyak dm yang masuk ke ig ku. Banyak yang tanya selama ini ke mana aja? Kok gak pernah kelihatan? Biasanya aktif kok tiba-tiba ngilang? Kirain udah nikah? Dll bla bla bla la la la. 

Aku minta maaf sama semua yang kena imbas ke-ansos-an ku. Yang pc line nya gak dibalas bahkan gak diread sama sekali, yang dm di ig tapi gak dibalas, aku benar-benar minta maaf. Aku juga terima kasih buat semua yang udah coba ngerti, yang paham betul bahwa menghadapi problem ini tuh gak mudah. Dan buat yang cepat mengambil kesimpulan, aku tau bahwa mungkin pemikiran kita berbeda. Mungkin kalian ketika dihadapkan problem sepertiku, kalian tidak butuh rehat sejenak, tidak butuh liburan, dan akan kuat menghadapinya setiap hari. Tapi gak semua orang sama. Aku melewatinya dengan cara yang berbeda dari yang kalian anggap benar. Jadi mohon banget sih jangan menuai omongan-omongan sedih hehe. Gak baik ngatain kehidupan orang cuma berdasarkan foto dan postingan lain di media sosialnya. Kasihan, orang-orang sensitif yang cepat down karena mikirin omongan orang. Gak semua sih kekuatan emosi tiap-tiap orang tuh sama. Saya sudah mengalami sedihnya. Yaaaaa, jangan ada orang lain gituuuuu yang ngerasain kyk saya lagi. Itu aja hehe.

Minggu, 24 Desember 2017

Semua cewek bakal marah kalau dibilang gendutan?

Apa bedanya aku dengan cewek-cewek yang lain?
Mungkin setelah kalian baca kalimat di atas, mungkin kalian akan berpikiran kalau aku sedang dan akan mengunggulkan sifat-sifat baikku dibanding cewek-cewek yang lain. Kalau iya, berarti kalian salah. Jadi apa dong bedanya?

Kalian terutama yang cowok-cowok, pernah bertanya-tanya gak, "apakah semua cewek di dunia ini bakal marah kalau dibilang gendut?" Nah, di sini aku bakal beropini about that issue.

Pernah, temenku yang cowok (Ben) tiba-tiba bilang gini ke aku, "kok makin gendut kau Nel?" Terus aku jawab, "ah seriusnyaaaaaaaa?" Dengar responku yang begitu dia langsung senyum-senyum sendiri. Trus dia tanya, "kenapa semua cewek marah kalau dibilang gendut?"

Ben, seperti cowok-cowok yang lain, dia pikir aku bakal marah kalau dikatain gendutan. Tapi guys sebenarnya, justru aku lebih senang kalau dikatain gendutan daripada kurusan. Jadi di sinilah letak perbedaanku dengan cewek lain yang terkenal dengan segala kemarahan mereka ketika ada orang yang sebut mereka makin kelihatan gemuk. To be honest hal itu gak berlaku sama sekali loh buat aku. 

"Kenapa emang kok senang dikatain gendutan dan malah kesal dikatain kurusan?"

Berat badanku sekarang nih 43kg dengan tinggi badan 158cm. Pernah kemarin sempat nyampe 45kg tapi turun lagi. Kalau temen-temenku bilang sih aku udah punya badan yang ideal dan sering bilang pengen punya badan sekurus aku. Aku selalu bilang sama mereka kalau seandainya bisa tukar badan, yuk deh tukar. Aku malah merasa kalau badan mereka tuh justru lebih wow dibanding aku. Dengan berat dan tinggi badanku yang sekarang, aku ngerasa masih kuranglah, pengen yang lebih gemuk sedikit lagi. Kalau orang bilang aku kurusan, gatau ya, aku ngerasa kayak hidupku menderita banget wkwk. Jadi beda ya. Cewek tuh semua gak sama. Aku nih salah satu contohnya, lebih happy dibilang gendutan daripada kurusan.

"Kalau pengen yang lebih gemuk, ya udah makan banyak aja, semua cewek bilang kalau makan banyak itu bikin mereka cepat gemuk!"

Makan banyak menyebabkan gendut itu tuh gak berlaku buat aku. Sama juga, ini juga bedanya aku dengan cewek-cewek lain. Di saat mereka diet, mengatur pola makan, gak makan yang berminyak-minyak, olahraga, dll, aku justru melakukan semua kebalikan hal-hal itu. Di saat cewek-cewek di luar sana gamau makan di atas jam 7 malam, aku malah selow makan malam jam 12 malam atau malah jam 2 pagi. SERIUS INI GAK BOHONG! Di sekitar kost ku kan ada beberapa tempat makan yang buka 24 jam, jadi gampang tuh mau makan keluar jam berapa aja. Buncit? Aku juga gak pernah masalah sama yang namanya gumpalan lemak di perut itu, serius deh. Kadang aku malah merasa senang sama buncit. Karna serius seumur-umur, aku belum pernah nih punya buncit saking kurusnya, sampai akhirnya sekarang aku udah kuliah, ini pertama kalinya aku punya buncit. Jadi buncit itu kadang kujadikan bukti bahwa aku gak sekurus dulu lagi. Dulu seingatku waktu SMA berat badanku cuma antara 38-39kg. Dulu sih bodo amat. Tapi makin ke sini makin ngerasa kalau kurus tuh gak bagus, kalau di foto tuh ngerasa kayak kecil banget. Duh!

"Kejadian-kejadian lucu yang pernah terjadi"

Di keluarga, aku adalah anak pertama dari 4 bersaudara. Percaya gak, kalau ada orang yang gak kenal sama keluarga kami, mereka gak bakal expect kalau aku nih anak pertama. Aku nih yang badannya paling kecil sekeluarga. Orang-orang bakal shock kalau ortuku mengenalkanku sama mereka sebagai anak pertama. Yaolohh sedih banget yak. Ini salah adik-adikku nih kenapa mereka badannya lebih gede/lebih tinggi daripada aku wkwk. Kejadian lucu lainnya, pernah nih aku order gojek, trus bapak gojeknya tanya, "udah kelas berapa?" Lah aku langsung ketawa sambil jawab kalau aku udah kuliah. Bapaknya kagetlah, dia minta maaf sambil ketawa juga. Waktu aku bilang, "malah saya udah lagi skripsian pak", si bapak gojek makin ketawa. Kayaknya dia gak nyangka banget, dan bilang kalau wajahku juga mendukung masih imoet-imoet gitcuh kayak anak SMP. Wkwk. Kocak sih. Malah ini gak sekali dua kali, udah berkali-kali nih kejadian dipikir anak SMP sama driver gojek. Pernah juga waktu naik grabcar pas mau belanja ke pasar, drivernya tanya, "Sekolah di SMP yang dekat pasar itu ya mba?" Trus aku jawablah, "Bukan pak, saya mau ke pasarnya hehe. Saya mah udah kuliah pak, kuliah di UB. Udah semester 8 malah. Gak kelihatan ya pak?" Eeeehhh lagi-lagi si driver menunjukkan respon shock-shock manja gitu, kaget dia sambil ketawa. "Saya pikir tadinya masih SMP mba, kirain mau balik ke asrama." Pernah juga waktu mau ngirim paket ke salah satu jasa pengiriman paket, pekerjanya di situ tanya, "Ini udah lulus SMP?" Yaolooohhhh wkwkwkk. 

Jadi gitu ya guys (terutama buat yg cowok-cowok), gak semua cewek kok bakal marah kalau dibilang gendutan. Dan buat cewek-cewek yang ngerasa dia gemuk, percayalah, di mataku kalian itu WOW. Kalian itu cantik banget karena terlihat seperti lebih dewasa dan cocok banget buat dipandang sebagai wanita-wanita karir. Ketimbang kayak aku yang image nya terlihat seperti anak-anak (SMP) dan susah untuk terlihat dewasa seperti kalian. Hehe

Kamis, 14 Desember 2017

Something weird happening to me right now

A letter to my future lover:

It's funny to think that we're strangers and you're sitting in some other room, in some other house, maybe even in some other country. Thinking about things that won't even cross my mind. 

It's funny to think that you're out there dreaming and loving and wishing upon the same stars that i look up at when night falls like a curtain over the horizon.

It's funny to think that someday you will love me but today you have no idea who i am.

P.S. When the time comes, i will love you too.


Well, uhm, aku mau sedikit curhat tentang kegalauan yang tiba-tiba datang ketika membaca kalimat-kalimat di atas. Tentang bulu tanganku yang tiba-tiba merinding akibat seketika nostalgia segala cerita di masa dulu yang sekarang tak pernah kurasakan lagi. Tentang cinta. Tentang rasa.

Aku menulis postingan ini sambil mendengar lagu "Paper Hearts by Torry Kelly", dan kalau kalian sedang membaca postingan ini (tentunya setelah aku edit dan akhirnya diupload), mungkin aku sarankan untuk membacanya sambil mendengarkan lagu itu juga, supaya setidaknya kalian bisa mengimajinasikan atmosfir seperti apa yang sedang kurasakan sekarang ini.

Entah kenapa aku harus tetiba galau, kenapa tetiba merinding? Haha I don't know. Singkatnya, aku cuma kayak ngerasa sekarang tuh hidupku flat banget. Tetiba jadi kepikiran hal ini, "ternyata lebih enak dulu, yang sering galau ngerasa sakit hati karena cinta, daripada sekarang tetiba galau karena gak pernah merasakan itu lagi, gejolak itu, rasa itu, atau apalah kalian menyebut itu". 

Aku pernah bilang bahwa jomblo itu gampang, gampang banget. Tapi ternyata bakal ada satu titik di mana kita akhirnya bisa tetiba rindu sama hal-hal yang pernah ada dulu. Jadinya prinsip gampang itu gak bakal segampang itu lagi. Not as easy as that!! Yang sekarang gak pernah kita rasakan lagi, bahkan mungkin udah lupa rasanya kayak gimana. Menurutku kalau kita punya cerita yang meskipun tidak sempurna, tapi setidaknya kamu masih punya cerita. Jadi tetap bersyukur aja. Soalnya tuh ternyata lebih sakit karena gak punya cerita daripada punya cerita tapi cerita sedih. Duh gimana ya jelasinnya? Intinya, ternyata lebih mendingan punya cerita sedih daripada gak punya sama sekali. Kayak pengalamanku sekarang nih, flat banget. Gak ada naik turunnya sama sekali. 

Bisa dibilang aku tipe orang yang sensitif. Baca/nonton/dengar hal yang sedikit menyentuh atau relate banget sama diriku sendiri, serius aku pasti langsung nangis. Dikit-dikit terharu, dikit-dikit mewek. And that's happening right now, those sentences above bring me to the place that even i don't know how to call it.

Finally, i need someone who can bring me to feel what i felt in the past. Sounds weird, and even this sounds really really really really really really funny. I just want someone to hear my story and he doesn't have to understand me. He can say that iam right or iam wrong.

Arrrggghhhh bahkan aku gatau mau nulis apa lagi. The end aja deh. Goodnight.

Selasa, 06 Juni 2017

Whether the myth is true or wrong

Bonjour...

Udah lama banget ya gak nulis lagi. Jujur aja dari kemarin-kemarin rasanya pengeeeeennn banget hadir di blog ini lagi, tapi gatau kenapa gak ada inspirasi buat bahas apa. Sampe-sampe kepikiran "apa segitu flat nya ya hidupku sekarang ini"? No idea, no inspiration, no topic, no journey, even no activities. Sampai akhirnya aku baru terpikir tentang semua sebab yang udah bikin hidupku flat banget kyk sekarang ini. "skripsi"

Oh hellooooo, apa itu skripsi? Aku jadi terharu sampai pengen banting laptop. To be honest aku sebenarnya gak pengen kasitau masalah ini sampai go public. Buat apa? Supaya orang-orang tau? Gak guna, gak bakal ada yang ngerti. Tiap sedih rasanya pengeeeennn banget curhat, but i know there will be no solution. Kadang juga pengen numpahin rasa jengkel ini di media sosial, tapi tiap kali mau posting, i feel it will be useless. Jadi dihapus lagi, gak jadi posting. Sampai akhirnya aku bertekad "oke, gak usah bikin masalah ini jadi go public. i've to keep it to myself".

Tapi sekarang aku nyerah. Congrats to my blog, setidaknya udah berhasil bujuk aku buat curhat di sini. Hhhhh. 

Sekitar tiga setengah tahun yang lalu, aku pernah menghadiri salah satu wisuda senior. Waktu itu aku pinjam dan iseng-iseng pakai toga sampai jubahnya. Waktu aku posting fotoku di medsos, seseorang bilang kalau pake toga sebelum wisuda itu adalah hal yang tabu, it will bring bad luck for me. Hal terburuknya adalah menyebabkan banyak rintangan menjelang kelulusan. Jujur aja waktu itu aku sempat ngerasa takut. Takut dan nyesal setengah mati. Kemudian aku coba untuk berpikir lebih positif, it's just a myth. Saat itu aku bertekad, aku harus membuktikan kalau mitos itu salah. I WILL PROVE IT'S WRONG. Aku harus lulus tepat waktu, bahkan aku bertekad lulus tigas setengah tahun. THAT MYTH IS  DEFINITELY WRONG.

Aku pikir satu-satunya faktor seberapa lama kamu bisa menamatkan studimu hanyalah dirimu sendiri. Tapi aku salah. Aku buta. Dan sekarang aku telah mendapatkan jawabannya. It's not just yourself, there is another person. Dia yang kita sebut sebagai "dosen pembimbing".

The truth is, aku sedang berada di ambang ketidakpastian. 

Aku udah mulai ngerjain skripsi sejak Oktober, dan itu sekitar delapan bulan yang lalu. Tapi gak ada yang bisa kuperbuat kalau situasinya beda dari yang aku harapkan. It was my bad luck, aku dapat salah satu dosen ter-SIBUK se-malang raya. April lalu aku udah sempro. Tapi sejak sempro hingga sekarang, si dosen gak pernah bisa ditemui. Alasannya selalu karena pergi ke luar kota, ada seminar, ada rapat, ada terapi, kecapean, dan kesibukan lain yang tidak terdeteksi. Konsekuensinya adalah ini semua. Sekarang aku lebih sering capek. Capek karena gak ada kegiatan. Capek karena kepikiran. Capek karena stresssssssssssssssssssssssss. Banyak yang bilang aku makin kelihatan kurus. Segitu parahnya kah?

Melihat teman-temanmu udah punya progres bakal buat kamu lebih terpukul. "Aku cuma takut tertinggal :(". Tiap ada yang tanya udah sampai mana, paling aku cuma jawab sambil ketawa. Nobody knows how i feel inside. It hurts. 

Seorang temanku pernah bilang, "Nel, you're not alone. That issue also happen to me." Aku harap sesuatu yang baik bakal terjadi sama dia, sama kami berdua.

Sekarang hampir tiap malam aku selalu insomnia. Kadang tiba-tiba sedih. Tetiba aja ada air mata. Cengeng sih. Tapi ya gak bisa bohong juga kalau semuanya benar-benar menguras pikiran.

Aku bukan tipe orang yang bisa santai. I mean, aku selalu membesar-besarkan masalah apaaaaa aja yang ada. Overthinking. Padahal bapak selalu bilang "Santaaaaaiiiii. Santai tapi serius. Semua itu ada prosesnya. Dan itu pasti bisa. Yang penting kita berusaha dan dibarengi doa. Pasti akan berhasil."

Dosenku baru bisa ditemui setelah 12 Juni. Setelah itu, dia juga pergi ke Jerman tanggal 12 Juli selama setengah bulan. Gimana nasib kami Bu? Ibu gak pernah ada waktu buat bimbingan. Selagi ada waktu, ibu pasti lebih mengutamakan S2. Setelah S2 selesai, ibu pasti kecapean. Trus kami yang S1 gimana? Kalau ibu mau bayar UKT kita buat semester depan sih monggo Bu, kami ikhlas. 

I wish there will be a miracle happen to me. Soon as possible. Gb