Dear Past, Thank You for All The Lesssons

There is no time to see backwards. Your future is still pure enough.

The only thing worse than being blind is having sight but no vision

When something bad happens, you have three choices. You can either let it define you, let it destroy you, or you can let it strengthen you.

Do You Know? You are Your Own Hero. Be Brave!

Don't die from a broken heart.

It is Never Too Late to be What You Might Have Been

If you were not happy with yesterday, try something different today. Don't stay stuck.

Things Work Out Best for Those Who Makes The Best of How Things Work Out.

Just believe in yourself. Even if you don't, pretend that you do, and at some point, you will.

If reading is HOT and writing is COOL. Therefore, read my writing is an awesome thing.

Sabtu, 28 Maret 2020

Tuan

"Halo", kataku. 
Menjawab dering telepon yang barusan kuterima. Tanpa nama. Hanya ada nomor dengan 12 angka.

"Bisa kita bicara sebentar?
Suara di ujung telepon mulai bersuara. Geming kata-kata yang terdengar di telinga mengingatkanku pada sesuatu yang sedikit samar. Tapi aku yakin seperti terhubung dengan masa lalu.

"Dengan siapa?" 
Aku bertanya dengan terpatah-patah seraya mencoba menebak siapa laki-laki ini.
Dia belum menjawab. Apa dia sedang berpikir? Atau tetiba dia lupa namanya? Mungkin dia seorang penipu? Atau karyawan bank yang akan menawarkan kartu kredit? 

Ku tarik nafas panjang. Aku tak suka hal yang tak jelas. Kuletakkan ponsel ku di atas meja, sesaat setelah kutekan tombol pengeras suara, agar aku bisa merapikan pakaian yang sejak tadi ingin ku susun ke dalam lemari. Ya, sambil menungguinya berbicara. 

"Apa kabar?" tanya dia lagi.
Aku mulai bingung. Dia bahkan tak menjawab pertanyaanku, sekarang justru melontarkan pertanyaan baru tentang keadaanku. Aneh.

"Kau bahkan tak menjawab pertanyaanku. Dengan siapa?" tanyaku lagi dengan semakin penasaran. 

"TUAN," jawabnya tanpa jeda.

Tuan? Tanyaku dalam hati. Pandanganku langsung kualihkan ke atas meja. Pakaian di tanganku jatuh berantakan. Ku basahi bibirku dengan lidah. Seketika aku merasa linglung. 

Tuan. Ku ulangi lagi kata itu di dalam hatiku. 
Tuan. Kemudian ku ulangi untuk kedua kalinya. 
Tuan. Dan ketiga kalinya.

"Tuan?" dan akhirnya aku bersuara.

"Apa kabar?" tanya dia lagi. Pertanyaan yang belum ku jawab beberapa detik yang lalu.

"Lama tidak berjumpa." jawabku. "Aku baik, selalu baik."

"Minggu depan akuuu,,,,,,," kemudian dia menjeda. "Menikah," sambungnya.

Aku terdiam. Kuangkat ponsel itu dari atas meja dan mematikan pengeras suaranya. "Minggu depan?" tanyaku. "Di mana?"

"Puncak.

"Aku akan datang."

Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Aku menoleh ke arah pintu, suamiku berdiri dengan senyuman.

"Sampai bertemu di pernikahanmu. Aku akan datang," kataku kepada tuan di ujung telepon.

Percakapan itu berhenti di sana. Naluriku, entah kenapa benar. Perasaan yang seakan mengingatkanku kepada masa lalu, ternyata benar. Tuan, laki-laki yang dulu ada di sampingku, hingga harus berpisah karena perbedaan. Sudah lama tidak bertemu. Mungkin sekitar lima atau enam tahun yang lalu.

"Minggu depan kita ke Puncak. Ada undangan pernikahan." kataku pada suamiku.

Dia mengangguk. Memelukku dengan erat seperti yang biasa dia lakukan setelah pulang kerja.

(bersambung)



PS: Cerita ini buah imajinasi yang muncul karena sebuah lagu berjudul "Wahai Tuan" dari Tiara Effendy.

Kamis, 19 Maret 2020

Apa yang kamu rindukan?

Mari kita mulai dari tanggal 26 Januari 2020. Waktu itu, ketiga saudaraku (Rio, Juli, Ian) mengajak bertemu di Central Park Mall. Karena janjiannya sore sekitar jam 4-an, aku otw sendirian dari Setiabudi sekitar pukul 3 menggunakan busway. I looooove busway. Aku bisa tahu banyak tempat dan nama-nama daerah di Jakarta karena busway. Pernah sampai ke Blok M, ke Kota Tua, Kalideres, Ragunan, which is itu semua adalah ujung-ujungnya rute busway.

Alright lets back to the topic. Setelah aku ketemu sama Rio, Juli dan Ian di Central Park, mereka nemanin aku untuk cari kado new year's gathering di kantor, yg which is pada akhirnya aku beli alarm clock dari miniso. Setelah itu kita kembali ke taman untuk nonton pertunjukan barongsai. Karena penontonnya padettttt bgt, dan aku gak bisa melihat dengan jelas, akhirnya kami memutuskan untuk duduk di sisi lain sambil menunggu kedatangan Bernard. Yupp, siang itu Bernard melakukan perjalanan dari Silangit ke Jakarta, dan menerima instruksi kami untuk langsung menyusul ke Central Park kalau udah nyampe di kosan. Beberapa saat kemudian, Bernard was finally there with us. And here is the beginning.

Corona Virus.

Saat itu aku duduk diapit oleh Rio dan Bernard. Lalu mereka ngobrol tentang corona virus yang saat itu aku masih belum tau itu apa. First of all, aku udah hengkang dari instagram. So i don't know anymore like almost every news. "Gak kau lihat rupanya di ig? Di situ banyak video kasus corona," Yah kira-kira begitulah pertanyaan Rio yang terheran-heran kenapa aku belum tau apa itu corona. Karena aku belum tau, Rio buka youtube dan mengenalkanku pada si corona ini. And the first response that i gave that time, obviously, i was shock. I mean, what the helllllll? Why is people falling down on the street and looks like a zombieeee? What is happeninggggggg?

I never imagine that the virus would coming to Jakarta, to Indonesia.

Besoknya, new year's gathering pun berlangsung di JW Marriot. Of course aku nyobain semua makanan yang bisa aku makan. Dari sushi, bakso, sosis ayam, sosis sapi, daging-dagingan, pizza, puding, ice cream, buah, dll yang aku udah gak ingat lagi.

Besoknya lagi setelah new year's gathering, aku ngerasa gak enak badan. Di kantor kyk udah ngerasa ada yang salah, badan kyk berasa mau remuk, meriang, pokoknya gak enak gitu. Besoknya lagi, aku ada meeting ke KPP dengan salah satu manager, kemudian ada Fajar, dan seorang pemeriksa pajak. Sepulang dari situ kita makan ke Kokas. Aku lupa deh kita makan apa, tapi yang pasti di situ aku udah ngerasa gak enak badan juga. Tapi aku gak bilang. Ya ngapain juga aku bilang-bilang. Managerku kyk nya ngeh kalau aku lagi ngerasa gak nyaman, tapi dia mikirnya karena aku kekenyangan. Dan aku pun meng-iya-kan kalau aku kekenyangan. As always, act like everything's fine. Dan memang pada saat itu aku gak terlalu menanggapinya dengan serius.

Harusnya, hari itu aku lembur. Tapi aku ijin untuk pulang lebih awal karena makin ngerasa ada yang salah.

29 Januari 2020

Pagi itu seperti biasa aku bangun untuk siap-siap ke kantor. Nah tapi waktu berdiri, mulai deh tuh pusing dan kyk ngerasa pengen jatuh. Jadi aku mutusin buat istirahat dulu dan ijin sakit ke sekretaris. Hari itu aku habiskan di tempat tidur. Paling bangun kalau mau ke toilet dan mau makan doang. Selebihnya benar-benar untuk tidur. Siangnya, nambah lagi nih, aku mulai diare. And i hate itttttttttt. Jadi kyk serentak menyerang dlm waktu yg sama antara pusing, meriang, batuk, demam, diare. Poor me. Sekitar jam 5 sore, which is itu adalah waktu pulang jam kantor, aku chat Bernard untuk beli garam dan gula, karena aku berencana bikin oralit (katanya bagus buat atasi diare dan emang aku udah pernah buktiin sendiri). Terakhir, aku pergi ke toilet lagi, dan saat itulah, there is something happened yg bikin aku buat keputusan, udah gak bener lagi nih, aku harus cek ke rumah sakit.

Aku nungguin Bernard pulang. Dan kita berdua pergi ke rs. Itu sekitar jam setengah 7. Kebetulan sore itu antriannya agak banyak, yang aku lihat sih kebanyakan adalah karyawan yg abis pulang kantor. Semua pakai maskerrrrrr. Dan sayangnya dokter yang lagi tugas juga agak tidak sebanding. Jadi aku nunggunya lumayan lah, hingga pada akhirnya dapat giliran sekitar jam 8. Cek cek cek, ternyata suhu ku udah sampai di 39 derajat. Dokter langsung gak bolehin aku pulang. Saat itu juga aku dirujuk buat opname. Bahkan aku mau pulang ambil pakaian aja udah gak dianjurkan lagi. "Semua disediakan rumah sakit. Pakaian juga ada," gitu kata si dokter. Setelah ngurus semua pendaftaran buat opname, aku akhirnya masuk ke ruangan sekitar hampir pukul 11 malam.

Singkatnya, setelah melalui beberapa tahap pengecekan, 2 hari setelah itu hasil test keluar. Aku didiagnosa mengalami bronchopneumonia duplex, atau dalam bahasa awam kita sebut sebagai infeksi paru-paru.

Oh ya, sebelum aku masuk ruang opname, aku ngabarin keluargaku bahwa aku harus opname, dan mereka (mama doang sih), paniknya luar biasa, apalagi setelah dengar biaya deposit yang terbilang cukup mahal di awal, jadi mereka mikirnya ini adalah masalah serius. Dan sempat berpikir bahwa "mungkin" / apakah "mungkin", aku....kena....corona?

Totalnya, aku opname di rs selama 5 hari. Huftt, akhirnya aku udah ngerasain gimana rasanya pakai infus. Tapi faktanya, aku di rs sangatttttttt ngerasa nyaman. I mean, aku gak punya keluhan berarti seperti sakit yg menyiksa atau apalah itu. Satu-satunya yang bikin aku gak nyaman cuma karena aku gak terbiasa dengan infus, jadi tangan kyk berasa kaku dan risih kalau mau gerak. Selebihnya, coba tanya Bernard, aku gak terlihat seperti orang yang sakit. Selera makan lancar (makanan rs enak kok guys), masih bisa nonton youtube, main game, bahkan belajar (not kidding).

Akhirnya aku pulang dari rs di hari minggu. Besoknya aku langsung ngantor. Dan hahahhaha, ternyata aku sempat dikhawatirkan kena si virus ini, karena gejalanya hampir sama. Kata dokter, infeksi paru ini memang lagi musim. Dan yaaaa, mungkin aku salah satu orang yang gak mau ketinggalan tren, sampai tren infeksi paru pun harus diikuti. Penyebabnya karena udara yang dihirup tidak baik, seperti polusi, asap rokok, dll. Juga karena aktivitas yg tidak seimbang dengan waktu istirahat dan olahraga. Heiiii, jgn bilang kalau banyak orang di luar sana yg tiap hari kena polusi dan asap rokok tapi gak kena infeksi paru-paru. Im telling you, badan tiap-tiap orang punya respon ketahanan yg beda-beda trhdp hal di sekitarnya. Tapi overall, sampai sekarang aku gak punya masalah dengan pernapasan. Kyk sesak dan sebagainya, itu sama sekali gak ada. Ya thats why i told you that im a truely wonder woman. Jadi kadang-kadang aku juga menyangkal kalau aku didiagnosa bronchopneumonia duplex. Is it possible that they have a wrong diagnosis?

Kondisi Terkini

Saat ini, 19 Maret 2020, kasus positif Covid-19 di Indonesia sudah mencapai 309 orang, di mana yg meninggal dunia ada 25 orang. Jakarta sangat keteteran. Hari minggu lalu  15 Maret 2020, Jokowi menginstruksikan dalam pidatonya agar masyarakat bisa bekerja di rumah, belajar di rumah, beribadah di rumah. Seninnya, kantorku langsung mempersiapkan hal-hal yang dibutuhkan untuk WFH (work from home) dan sudah berjalan dari hari selasa hingga 2 minggu ke depan.  Atau mungkin lebih. Menyesuaikan situasi dan kondisi ke depannya.

Omg, aku rindu masa-masa di mana bisa ke mana aja tanpa rasa takut dan waswas. Aku rindu masa-masa di mana gak usah pakai masker. Pergi CFD, nge-mall, nongkrong di JCO sampai tengah malam. Sekarang mah boro2 nongkrong, order grabfood aja udh harus langsung semprot hand sanitizer setelah terima makanannya. Oh ya satu lagi, kangen buswaaaayyyyyyy.

:(

Kalau kamu, apa yg kamu rindukan?

Kamis, 12 Maret 2020

I don't hate you
No, I couldn't if I wanted to
I just hate all the hurt that you put me through

Senin, 09 Maret 2020

I hate you for taking the piece of my heart, and then you broke it until you run away without trying to fix it. Im done with this. Maybe what selena said is right, that i have to hate you to love me.

That even in my dream, i always feel guilty for something that i never did. Days in a row, you came to my dream to torture me. Am i deserve it? Do you even feel guilty?

I hate you.

From the deepest of my heart, i hate you.

Rabu, 04 Maret 2020

Haiii, semuanya tak seburuk yang kau kira kok. Coba ingat lagi hari ini, banyak pekikian tawa yang kau sodorkan pada sela-sela aktivitasmu. Beruntung kau diapit oleh orang-orang yang hebat. Mereka serius, serius dengan sesekali bercanda, sesekali bertanya, sesekali kepo, sesekali berbagi cerita. Mereka seru. Tak setegang orang lain di sana. Aku tau kamu tak suka suasananya. Tapi perubahan itu hampir meredamkan ketakutanmu kan? Aku tau, aku tau kau sudah mulai terbiasa. Teruskan ya, kau sudah melakukannya dengan baik. Aku bangga.

#eluseluskepala

Selasa, 03 Maret 2020

Bad dreams go away!

Pagi-pagi sewaktu prepare mau ke kantor, aku tuh biasanya play on  podcast nya oprah winfrey. Menurutku, i need a help. Dan oprah adalah salah satu motivator hebat yang aku harapkan bisa membuat pikiranku jadi lebih enteng. Tapi tau gak? Gak ada perubahan.

My doctor said that i have to make all the bad things disappear. Dia bilang aku harus positive thingking. Aku dengar semua yang dia bilang, aku ngerti, tapi pada waktu itu semuanya hanya terasa kyk masuk kuping kiri keluar kuping kanan.

Waktu aku tanya si dokter, "Dokter, apa menghindar dari orang yang kita tidak suka adalah hal yang wajar? Harusnya semua orang ngerasain itu juga gak sih? Bukan cuma aku doang kan?"

Dokter bilang, wajar saja sebenarnya. Tapi itu tuh gak bisa dilakukan terus-menerus. Because at least, kamu harus belajar bagaimana menyelesaikan masalah, bukan menghindar.

Nah kesimpulannya, kalau kamu emang ngerasa butuh bantuan, satu-satunya orang yang bisa bantu kamu buat memperbaiki dirimu sendiri, ya cuma kamu. Bukan oprah winfrey, bukan dokter, bukan siapa pun itu yang kamu pikir bakal selalu ada di sana buat kamu.



Minggu, 01 Desember 2019

The End of The Road

Is it true that you have already at the end of the road?

Ya its true. But it feels like a dream. Being more complicated because before we finally arrive at the end of the road, everything is sooooo damn alright. We talk on the phone for hours, and i still remember the atmosphere. Its comfort, its warm, its perfect. 

What is actually happened?

It happened so fast. When everything happened perfectly, we arrived in a very sensitive topic. And there it is. Its the moment that ruin the atmosphere. I find out that we have a very different kind of perspective, and its so irrelevant. We, both of us, admit that we are an open minded person. But the way we own that open minded thing, its not in a same line. I see us standing in a different line. And it couldnt be helped. Its too far. And its the moment that i feel not confident enough for this relationship anymore. I think, we dont understand each other yet. He couldnt understand what might hurt me. And its also happened to me sometimes. We used to hurt each other with no purpose, and we used to say that everything is alright and under control, forget the problem, no solution. AND ITS NOT GOOD AT ALL. Its like we fake all the things, we pretend, we wish everything keep balance, we say its fine, but we both know there is something wrong actually happened. Or is it just me who feel it? I have no idea.

Do you feel sorry that you have to end up like this?

Of course i do. When i wake up in the morning, open my eyes and realize that he doesn't belong to me anymore, the pain starts to consume me. And it hurts like hell.

Its been three weeks. I am the one who decide to end that relationship. But in case you are courious, i still dont know whether my decision is right or wrong. "We have become a stranger". Its the only one thing that i could understand.

How if, in the magical way, you have a power to turn back time, do you still dare enough to see him deeply in his eyes?

I know many people who breakup and end up to hate their ex. I dont wanna be like that. Because i believe that everything happened for a reason. When we still together, i feel its a gift to have him as one of my favourite person in life. He was amazing. He was the best. And he doesnt deserve hate after the breakup. 

I dont want to forget him. I will always remember the way he saw me. But at least, i just want to erase this pain for a while. Because for God sake, i cant breath.

And if suddenly i have a power to turn back time, i promise that i will be dare enough to see him deeply in his eyes. Oh no i miss that eyes.

How do you want people to see you?

This is shame enough to tell, that even me, I still confuse about what i actually want in a relationship. I mean, what am I searching for? Because if I mention about sincerity, loyalty, love, kindness, comfort, and the other great things like that, its true, i want it. But is it the end? Nah, its only the basic. How about the rest? 

Thats the point. 

And about the question, how do i want people to see me? I want people to know that i am alright. While inside, i have a billion different feelings that drive me insane. 

Do you still communicate with him?

Unfortunately no, we dont. 

The first sunday after the breakup, he send me message about "darling, happy sunday" with an emoticon rose. That message, i received it before the mass. Because i am in church at that moment, so i didnt reply as soon as the message come. After the mass, i open my phone and found out that he has block me. My God, its rippin my heart so badly. Its the moment i realize, that i have TOTALLY lost him. 

Is there anything you want to ask him?

I have soooooo many. 

First of all, i wanna ask about whats in his mind. I try to imagine how he is doing there. Is that everything alright? You good? How about the work? Is it everything under control? Do you eat well? Do you have enough sleeping time? I hope you doing well. 

Have your family and friends know about us? Have you tell them that we no longer together? If so, how could you tell them? 

You block me right? But a few last days, i saw your activities on my feed. So you already open the blocking? What is your reason in blocking me? And what is your reason open that block?

The last thing, tell him one thing from the deepest of your heart!

My darling, you were good to me. We have try this twice. And now we also lost each other twice. My darling, when we try the second chance, your arrival is like a sunshine in my life. You bring joy. You bring warm. And loving you was a gift.

You are so brave. You are authentic. But darling, i am sorry, its not supposed to be like that. You cant handle your egoism. Your perspective, you think its the most valuable thought, and you block me for taking part to brighten it up.

My darling, your authenticity has hurt me. You put it as the most important thing than my feeling. You are too brave to say everything that you consider as the right thing, you think its good to put the authenticity at the very front place, and you dont care whether if it hurts my feeling or not. You dont care about my existence. And its all. Thats the point which bring us to the end of the road. 

My darling, i cant reach you, and i am scared.

Rabu, 20 November 2019

Disconnected



Disconnected is a video that I made to reference a causal relationship. It has two things which become the main issue of this. The first thing is called "the cause". And the second is called "the effect".

If the cause is "irrelevant perspective", then the effect would be a "disconnected relationship".

They are not in the same line anymore. Or actually, it's probably never in the same line.

Rabu, 13 November 2019

Ripped Heart

Coba lihat aku jauh ke dalam mata. Kau akan bisa melihat betapa banyak rasa khawatir di dalam sana. Jangan tanya, aku tak akan bisa jelaskan. 

Aku tak pernah takut pada suara petir yang menyambar. Aku tak pernah gentar, bahkan dapat bernafas dengan baik ketika listrik padam di seluruh Jakarta. Tapi memikirkan kita justru begitu menguras seluruh energi ku. 

Aku tak suka ini. Aku benci situasi begini.

Kataku semuanya baik-baik saja. Tapi sejak aku mengucapkannya hingga sampai sekarang ini, aku masih berusaha mencari cara, bagaimana memikirkanmu tanpa harus merobek hatiku. Entah pun harus sampai kapan.

Minggu, 10 November 2019

SUCH A HERO

Wishing you could fix everyone's problem, but at the same time, you realize, there is nobody could touch your problem, because you think they would never understand.

SUCH A HERO!

EVERYONE'S HERO!