Dear Past, Thank You for All The Lesssons

There is no time to see backwards. Your future is still pure enough.

The only thing worse than being blind is having sight but no vision

When something bad happens, you have three choices. You can either let it define you, let it destroy you, or you can let it strengthen you.

Do You Know? You are Your Own Hero. Be Brave!

Don't die from a broken heart.

It is Never Too Late to be What You Might Have Been

If you were not happy with yesterday, try something different today. Don't stay stuck.

Things Work Out Best for Those Who Makes The Best of How Things Work Out.

Just believe in yourself. Even if you don't, pretend that you do, and at some point, you will.

If reading is HOT and writing is COOL. Therefore, read my writing is an awesome thing.

Minggu, 24 Desember 2017

Semua cewek bakal marah kalau dibilang gendutan?

Apa bedanya aku dengan cewek-cewek yang lain?
Mungkin setelah kalian baca kalimat di atas, mungkin kalian akan berpikiran kalau aku sedang dan akan mengunggulkan sifat-sifat baikku dibanding cewek-cewek yang lain. Kalau iya, berarti kalian salah. Jadi apa dong bedanya?

Kalian terutama yang cowok-cowok, pernah bertanya-tanya gak, "apakah semua cewek di dunia ini bakal marah kalau dibilang gendut?" Nah, di sini aku bakal beropini about that issue.

Pernah, temenku yang cowok (Ben) tiba-tiba bilang gini ke aku, "kok makin gendut kau Nel?" Terus aku jawab, "ah seriusnyaaaaaaaa?" Dengar responku yang begitu dia langsung senyum-senyum sendiri. Trus dia tanya, "kenapa semua cewek marah kalau dibilang gendut?"

Ben, seperti cowok-cowok yang lain, dia pikir aku bakal marah kalau dikatain gendutan. Tapi guys sebenarnya, justru aku lebih senang kalau dikatain gendutan daripada kurusan. Jadi di sinilah letak perbedaanku dengan cewek lain yang terkenal dengan segala kemarahan mereka ketika ada orang yang sebut mereka makin kelihatan gemuk. To be honest hal itu gak berlaku sama sekali loh buat aku. 

"Kenapa emang kok senang dikatain gendutan dan malah kesal dikatain kurusan?"

Berat badanku sekarang nih 43kg dengan tinggi badan 158cm. Pernah kemarin sempat nyampe 45kg tapi turun lagi. Kalau temen-temenku bilang sih aku udah punya badan yang ideal dan sering bilang pengen punya badan sekurus aku. Aku selalu bilang sama mereka kalau seandainya bisa tukar badan, yuk deh tukar. Aku malah merasa kalau badan mereka tuh justru lebih wow dibanding aku. Dengan berat dan tinggi badanku yang sekarang, aku ngerasa masih kuranglah, pengen yang lebih gemuk sedikit lagi. Kalau orang bilang aku kurusan, gatau ya, aku ngerasa kayak hidupku menderita banget wkwk. Jadi beda ya. Cewek tuh semua gak sama. Aku nih salah satu contohnya, lebih happy dibilang gendutan daripada kurusan.

"Kalau pengen yang lebih gemuk, ya udah makan banyak aja, semua cewek bilang kalau makan banyak itu bikin mereka cepat gemuk!"

Makan banyak menyebabkan gendut itu tuh gak berlaku buat aku. Sama juga, ini juga bedanya aku dengan cewek-cewek lain. Di saat mereka diet, mengatur pola makan, gak makan yang berminyak-minyak, olahraga, dll, aku justru melakukan semua kebalikan hal-hal itu. Di saat cewek-cewek di luar sana gamau makan di atas jam 7 malam, aku malah selow makan malam jam 12 malam atau malah jam 2 pagi. SERIUS INI GAK BOHONG! Di sekitar kost ku kan ada beberapa tempat makan yang buka 24 jam, jadi gampang tuh mau makan keluar jam berapa aja. Buncit? Aku juga gak pernah masalah sama yang namanya gumpalan lemak di perut itu, serius deh. Kadang aku malah merasa senang sama buncit. Karna serius seumur-umur, aku belum pernah nih punya buncit saking kurusnya, sampai akhirnya sekarang aku udah kuliah, ini pertama kalinya aku punya buncit. Jadi buncit itu kadang kujadikan bukti bahwa aku gak sekurus dulu lagi. Dulu seingatku waktu SMA berat badanku cuma antara 38-39kg. Dulu sih bodo amat. Tapi makin ke sini makin ngerasa kalau kurus tuh gak bagus, kalau di foto tuh ngerasa kayak kecil banget. Duh!

"Kejadian-kejadian lucu yang pernah terjadi"

Di keluarga, aku adalah anak pertama dari 4 bersaudara. Percaya gak, kalau ada orang yang gak kenal sama keluarga kami, mereka gak bakal expect kalau aku nih anak pertama. Aku nih yang badannya paling kecil sekeluarga. Orang-orang bakal shock kalau ortuku mengenalkanku sama mereka sebagai anak pertama. Yaolohh sedih banget yak. Ini salah adik-adikku nih kenapa mereka badannya lebih gede/lebih tinggi daripada aku wkwk. Kejadian lucu lainnya, pernah nih aku order gojek, trus bapak gojeknya tanya, "udah kelas berapa?" Lah aku langsung ketawa sambil jawab kalau aku udah kuliah. Bapaknya kagetlah, dia minta maaf sambil ketawa juga. Waktu aku bilang, "malah saya udah lagi skripsian pak", si bapak gojek makin ketawa. Kayaknya dia gak nyangka banget, dan bilang kalau wajahku juga mendukung masih imoet-imoet gitcuh kayak anak SMP. Wkwk. Kocak sih. Malah ini gak sekali dua kali, udah berkali-kali nih kejadian dipikir anak SMP sama driver gojek. Pernah juga waktu naik grabcar pas mau belanja ke pasar, drivernya tanya, "Sekolah di SMP yang dekat pasar itu ya mba?" Trus aku jawablah, "Bukan pak, saya mau ke pasarnya hehe. Saya mah udah kuliah pak, kuliah di UB. Udah semester 8 malah. Gak kelihatan ya pak?" Eeeehhh lagi-lagi si driver menunjukkan respon shock-shock manja gitu, kaget dia sambil ketawa. "Saya pikir tadinya masih SMP mba, kirain mau balik ke asrama." Pernah juga waktu mau ngirim paket ke salah satu jasa pengiriman paket, pekerjanya di situ tanya, "Ini udah lulus SMP?" Yaolooohhhh wkwkwkk. 

Jadi gitu ya guys (terutama buat yg cowok-cowok), gak semua cewek kok bakal marah kalau dibilang gendutan. Dan buat cewek-cewek yang ngerasa dia gemuk, percayalah, di mataku kalian itu WOW. Kalian itu cantik banget karena terlihat seperti lebih dewasa dan cocok banget buat dipandang sebagai wanita-wanita karir. Ketimbang kayak aku yang image nya terlihat seperti anak-anak (SMP) dan susah untuk terlihat dewasa seperti kalian. Hehe

Kamis, 14 Desember 2017

Something weird happening to me right now

A letter to my future lover:

It's funny to think that we're strangers and you're sitting in some other room, in some other house, maybe even in some other country. Thinking about things that won't even cross my mind. 

It's funny to think that you're out there dreaming and loving and wishing upon the same stars that i look up at when night falls like a curtain over the horizon.

It's funny to think that someday you will love me but today you have no idea who i am.

P.S. When the time comes, i will love you too.


Well, uhm, aku mau sedikit curhat tentang kegalauan yang tiba-tiba datang ketika membaca kalimat-kalimat di atas. Tentang bulu tanganku yang tiba-tiba merinding akibat seketika nostalgia segala cerita di masa dulu yang sekarang tak pernah kurasakan lagi. Tentang cinta. Tentang rasa.

Aku menulis postingan ini sambil mendengar lagu "Paper Hearts by Torry Kelly", dan kalau kalian sedang membaca postingan ini (tentunya setelah aku edit dan akhirnya diupload), mungkin aku sarankan untuk membacanya sambil mendengarkan lagu itu juga, supaya setidaknya kalian bisa mengimajinasikan atmosfir seperti apa yang sedang kurasakan sekarang ini.

Entah kenapa aku harus tetiba galau, kenapa tetiba merinding? Haha I don't know. Singkatnya, aku cuma kayak ngerasa sekarang tuh hidupku flat banget. Tetiba jadi kepikiran hal ini, "ternyata lebih enak dulu, yang sering galau ngerasa sakit hati karena cinta, daripada sekarang tetiba galau karena gak pernah merasakan itu lagi, gejolak itu, rasa itu, atau apalah kalian menyebut itu". 

Aku pernah bilang bahwa jomblo itu gampang, gampang banget. Tapi ternyata bakal ada satu titik di mana kita akhirnya bisa tetiba rindu sama hal-hal yang pernah ada dulu. Jadinya prinsip gampang itu gak bakal segampang itu lagi. Not as easy as that!! Yang sekarang gak pernah kita rasakan lagi, bahkan mungkin udah lupa rasanya kayak gimana. Menurutku kalau kita punya cerita yang meskipun tidak sempurna, tapi setidaknya kamu masih punya cerita. Jadi tetap bersyukur aja. Soalnya tuh ternyata lebih sakit karena gak punya cerita daripada punya cerita tapi cerita sedih. Duh gimana ya jelasinnya? Intinya, ternyata lebih mendingan punya cerita sedih daripada gak punya sama sekali. Kayak pengalamanku sekarang nih, flat banget. Gak ada naik turunnya sama sekali. 

Bisa dibilang aku tipe orang yang sensitif. Baca/nonton/dengar hal yang sedikit menyentuh atau relate banget sama diriku sendiri, serius aku pasti langsung nangis. Dikit-dikit terharu, dikit-dikit mewek. And that's happening right now, those sentences above bring me to the place that even i don't know how to call it.

Finally, i need someone who can bring me to feel what i felt in the past. Sounds weird, and even this sounds really really really really really really funny. I just want someone to hear my story and he doesn't have to understand me. He can say that iam right or iam wrong.

Arrrggghhhh bahkan aku gatau mau nulis apa lagi. The end aja deh. Goodnight.

Selasa, 06 Juni 2017

Whether the myth is true or wrong

Bonjour...

Udah lama banget ya gak nulis lagi. Jujur aja dari kemarin-kemarin rasanya pengeeeeennn banget hadir di blog ini lagi, tapi gatau kenapa gak ada inspirasi buat bahas apa. Sampe-sampe kepikiran "apa segitu flat nya ya hidupku sekarang ini"? No idea, no inspiration, no topic, no journey, even no activities. Sampai akhirnya aku baru terpikir tentang semua sebab yang udah bikin hidupku flat banget kyk sekarang ini. "skripsi"

Oh hellooooo, apa itu skripsi? Aku jadi terharu sampai pengen banting laptop. To be honest aku sebenarnya gak pengen kasitau masalah ini sampai go public. Buat apa? Supaya orang-orang tau? Gak guna, gak bakal ada yang ngerti. Tiap sedih rasanya pengeeeennn banget curhat, but i know there will be no solution. Kadang juga pengen numpahin rasa jengkel ini di media sosial, tapi tiap kali mau posting, i feel it will be useless. Jadi dihapus lagi, gak jadi posting. Sampai akhirnya aku bertekad "oke, gak usah bikin masalah ini jadi go public. i've to keep it to myself".

Tapi sekarang aku nyerah. Congrats to my blog, setidaknya udah berhasil bujuk aku buat curhat di sini. Hhhhh. 

Sekitar tiga setengah tahun yang lalu, aku pernah menghadiri salah satu wisuda senior. Waktu itu aku pinjam dan iseng-iseng pakai toga sampai jubahnya. Waktu aku posting fotoku di medsos, seseorang bilang kalau pake toga sebelum wisuda itu adalah hal yang tabu, it will bring bad luck for me. Hal terburuknya adalah menyebabkan banyak rintangan menjelang kelulusan. Jujur aja waktu itu aku sempat ngerasa takut. Takut dan nyesal setengah mati. Kemudian aku coba untuk berpikir lebih positif, it's just a myth. Saat itu aku bertekad, aku harus membuktikan kalau mitos itu salah. I WILL PROVE IT'S WRONG. Aku harus lulus tepat waktu, bahkan aku bertekad lulus tigas setengah tahun. THAT MYTH IS  DEFINITELY WRONG.

Aku pikir satu-satunya faktor seberapa lama kamu bisa menamatkan studimu hanyalah dirimu sendiri. Tapi aku salah. Aku buta. Dan sekarang aku telah mendapatkan jawabannya. It's not just yourself, there is another person. Dia yang kita sebut sebagai "dosen pembimbing".

The truth is, aku sedang berada di ambang ketidakpastian. 

Aku udah mulai ngerjain skripsi sejak Oktober, dan itu sekitar delapan bulan yang lalu. Tapi gak ada yang bisa kuperbuat kalau situasinya beda dari yang aku harapkan. It was my bad luck, aku dapat salah satu dosen ter-SIBUK se-malang raya. April lalu aku udah sempro. Tapi sejak sempro hingga sekarang, si dosen gak pernah bisa ditemui. Alasannya selalu karena pergi ke luar kota, ada seminar, ada rapat, ada terapi, kecapean, dan kesibukan lain yang tidak terdeteksi. Konsekuensinya adalah ini semua. Sekarang aku lebih sering capek. Capek karena gak ada kegiatan. Capek karena kepikiran. Capek karena stresssssssssssssssssssssssss. Banyak yang bilang aku makin kelihatan kurus. Segitu parahnya kah?

Melihat teman-temanmu udah punya progres bakal buat kamu lebih terpukul. "Aku cuma takut tertinggal :(". Tiap ada yang tanya udah sampai mana, paling aku cuma jawab sambil ketawa. Nobody knows how i feel inside. It hurts. 

Seorang temanku pernah bilang, "Nel, you're not alone. That issue also happen to me." Aku harap sesuatu yang baik bakal terjadi sama dia, sama kami berdua.

Sekarang hampir tiap malam aku selalu insomnia. Kadang tiba-tiba sedih. Tetiba aja ada air mata. Cengeng sih. Tapi ya gak bisa bohong juga kalau semuanya benar-benar menguras pikiran.

Aku bukan tipe orang yang bisa santai. I mean, aku selalu membesar-besarkan masalah apaaaaa aja yang ada. Overthinking. Padahal bapak selalu bilang "Santaaaaaiiiii. Santai tapi serius. Semua itu ada prosesnya. Dan itu pasti bisa. Yang penting kita berusaha dan dibarengi doa. Pasti akan berhasil."

Dosenku baru bisa ditemui setelah 12 Juni. Setelah itu, dia juga pergi ke Jerman tanggal 12 Juli selama setengah bulan. Gimana nasib kami Bu? Ibu gak pernah ada waktu buat bimbingan. Selagi ada waktu, ibu pasti lebih mengutamakan S2. Setelah S2 selesai, ibu pasti kecapean. Trus kami yang S1 gimana? Kalau ibu mau bayar UKT kita buat semester depan sih monggo Bu, kami ikhlas. 

I wish there will be a miracle happen to me. Soon as possible. Gb


Senin, 17 April 2017

Aku Bergegas

Aku akan bergegas
Meninggalkan tempat lama yang sesungguhnya tak pernah pantas untuk kutinggali
Aku menyerah dan aku siap
Tekad bulatku yang akan menuntunku pada jalan pulangku
Meskipun setapak, meskipun berduri, meskipun menyiksa, tekadku yang akan menjamin semuanya akan baik-baik saja

Tanpa cahaya pun aku berani
Di tepi jalan kulihat kunang-kunang yang berbaik hati memberikan terangnya
Karena ku telah terlalu putus asa
Dan kucoba menyikapinya dengan sangat dewasa

Aku bukan anak kecil lagi
Kita bukan anak kecil lagi
Beranilah bergegas dari zona yang paling memuakkan itu
Yang semua makhluk membencinya, bahkan ranting di musim kemarau sekalipun

Untukmu diriku yang teramat malang
Mungkin kau telah terlanjur marah
Kubiarkan kau selalu tersiksa bahkan dengan seijinku hingga berulang kali
Maafkan aku yang mengundang air mata
Tampar aku sebab lantang menulikan suara hati

Sadarku kini banyak melihat aegrotare
Tak remang-remang, seluruhnya tampak jelas
Tapi yang terlanjur pun dapat ditinggalkan kan?
Akan kuhiraukan dia
Akan kuhilangkan dia
Akan kuhapuskan dan ku tahu semua akan baik-baik saja
Untukmu diriku yang telah terlanjur cicipi hujan aegrotare, kini semuanya akan lebih baik-baik saja

Aku bergegas

Sabtu, 30 Juli 2016

Kupikir nomor itu bisa jadi nomor terakhirku
Kupikir nomor itu bisa kugunakan sampai kerja nanti
Kupikir aku tak akan pernah lagi menggantinya dengan yang baru
Tapi itu semua, hanya kupikir

Kupikir HP Samsungku itu akan bertahan lebih lama lagi
Kupikir aku akan bisa menggantinya dengan yang baru menggunakan uangku sendiri
Kupikir aku tak akan kehilangannya secepat ini
Tapi itu semua, hanya kupikir

Kupikir Laptop Lenovo ku itu akan jadi laptop terakhir yang dibelikan orangtuaku
Kupikir data-data yang tersimpan di dalamnya akan aman sampai nanti
Kupikir aku bisa menyimpan semua kenangan di sana sampai tua nanti
Tapi itu semua, hanya kupikir

Kupikir novel garapanku itu akan selalu aman berada di sana
Kupikir aku bisa menerbitkannya sesuai impianku di pertengahan 2017 nanti
Kupikir semuanya akan berjalan dengan lancar
Tapi itu semua, hanya kupikir

Maaf karena kebodohanku kalian harus pergi dengan cara yang seperti ini
Kehilangan kalian bukan sesuatu yang kumau, bahkan tak pernah kubayangkan
Di mana pun kalian saat ini, kumohon cobalah untuk kembali
Aku merindukan kalian
Kepergian kalian membuatku kacau dan tak karuan

Kumohon pulanglah
Kalian tak mengasihaniku?
Aku lelah menangisi kalian :'(

Selasa, 21 Juni 2016

Bagaimana ketika kupu-kupu merindukan putik di musim salju?
Menunggui semi beraromakan daun-daun rindang dengan buliran rindu?

Bagaimana bila pelangi ingin berpamer warna ketika hujan pun segan mengundang?
Matahari terlalu enggan membiarkan embunnya berair mata

Kemarin aku tersengat sesuatu
Yang sebenarnya aku tak mengerti menyebutnya apa
Menjalin antara sedih dan bahagia yang sama sekali tak seturut logika

Dia,
Bayangannya terselip di sela-sela lembaran imajinasi liarku
Mengukir tanda tanya yang berakhir kata penasaran
Dia, yang saat ini matanya begitu jelas melintas dalam pikiranku
Tak bisakah dia pulang barang sejenak untuk membalaskan rinduku?

Ketika kemudian dia melangkah terlalu jauh bahkan amat jauh
Sebenarnya apa yang dapat menguatkan keinginannya untuk tetap tinggal dalam lembah rinduku?
Lekukan tubuhnya masih seperti di sini
Senyum jahilnya masih jelas ada di sini
Di sini, di sebelah kanan lalu pindah ke kiri, kemudian mengitari ruangan ini, membuat bola mataku lelah menyusuri

Aku pernah memandang gelap dalam mimpi
Juga pernah mengangumi terang di dalam sadar
Kau tahu?
Kali ini aku malah menemui gelap di dalam sadar

Dia,
Sering aku bertanya siapa sebenarnya dia?
Hingga kini aku mengerti

Dia tempat teraman yang kumiliki saat ini

Minggu, 15 Mei 2016

Aegrotare Sayap-Sayap Patah

Aku pernah ada di sana
Menyusuri setiap detail goretan wajah
Yang tegas
Yang lembut nan menenggelamkan

Ada sesuatu di sela-sela sentuhan itu
Ketika jari-jari piawai menyusuri helaian rambut
Mengundang kantuk di antara pelipis kemudian turun ke pipi

Rasa-rasa itu menopang banyak kejanggalan
Entahlah
Aku cuma takut jika tak kan lagi temukan bahagia

Ketika bahkan dalam mimpi pun terang itu tak lagi ada
Sepanjang jalan semuanya terasa gelap, redup, dan tak ada siapa-siapa
Hanya kudengar suara nafas dan langkah kakiku sendiri
Menciut, nyaliku menciut meratap kesepian

Kau tahu?
Sosok yang hadir dengan bayangan semu adalah dirimu
Menjalin genggaman tangan di pinggiran raya
Menuntunku melangkah untuk berbalik pulang

Ombak bimbang tak pernah segan menerpa
Menyesakkan dada yang lapang sebenarnya
Keragu-raguan yang ada atau bahkan hanya pura-pura
Semuanya dihimpit dengan sempurna oleh reaksi cinta yang kita bilang salah

Aku dan jantung yang jauh lebih setia darimu ini, terenyuh
Tidakkah kau paham?
Keunggulan yang bagaimana lagi yang tak dipunyai hatiku?
Sekian banyak aegrotare telah ditopangnya meskipun dengan peluh yang bercucuran

Terkadang yang kau lemparkan dari bibir manismu hanyalah kata-kata mengadili
Menumpuk memori yang mengingatkanku pada sayap-sayap patah

Dengar
Kau tak tahu mengapa aku begitu sulit diterka
Atau aku yang tak benar-benar tahu siapa sebenarnya aku di gubuk pikiranmu

Dengar
Siapa yang akan tanggung jawab ketika harus kutarik ulur semua rafia rasa ini?
Bahkan warna yang kau puja-puja pun kurasa tak akan mau ikut campur kalau sudah begini

Dengar
Mungkin yang ingin kukatakan hanyalah ini
Kau tak boleh begitu

Jangan begitu

Kamis, 31 Maret 2016

Q & A

Rasanya udah lama banget kan ya gak nyentuh blog ini lagi. Janjinya sih pengen terus update tapi sayang waktu yang dipunya kebanyakan habis buat kuliah dan organisasi (halaaahhh sok sibuk :v)  Sekarang aku lagi nyantai karena emang gak ada jadwal kuliah dan gak ada keperluan organisasi juga yang mengharuskan aku buat melenggang ke kampus. Di samping kiriku ada tahu telor lontong yang masih utuh dalam bungkusannya. Beberapa menit yang lalu VancSyl nganterin titipin ku ini ke kamar. Tapi bukan itu yang bakal aku bahas untuk sekarang ini wkwk. 

Untuk yang kedua kalinya, aku ngadain sesi pertanyaan atau "Question and Answer". Seperti biasanya, di sesi ini aku bakal nanyain random ke kontak-kontak di hp ku, pertanyaan apa aja yang mereka mau tanyain ke aku. Terserah, bebas, sebebas aku mecintaimu.

Well, aku rasa udah basa-basinya. Soalnya udah mulai menjalar ke mana-mana sampai salah fokus.

Hal yang lucu adalah ketika mereka gak mau kasih pertanyaan ke aku. Katanya kek aku mau mati aja wkwk :v

Fyi, pertanyaan ini gak aku jawab langsung ke mereka, tapi hanya dibahas di sini secara rahasia. Jadi buat kamu-kamu yang baca ini, selamat!! Kalian baru baca 10 rahasia dari saya.

1. Stefani Fabiola Christy (Administrasi Bisnis Universitas Brawijaya 2014)
Apa yang paling kakak benci?
Stef, kenapa sih nanya hal yang paling aku benci? Kenapa gak nanya hal yang paling aku suka? Kan aku bisa jawab "kamu" #eh. Okey stef, jawabannya mungkin adalah, ketika aku merasa bersalah padahal aku gak salah. Kadang aku udah ngelakuin hal yang benar, udah jujur, tapi waktu pengen ngomong ke orang lain, aku kok bawaannya takut gitu ya? Takut dia mikir aku bohong. Takut kalau dia gak percaya. Dan itu adalah salah satu hal yang paling aku benci. Bodoh kan, Stef?

Satu lagi deh. Aku paling benci kalau pas lagi nyuci, trus ada kain yang luntur. Benci banget aku itu. Bisa sampe kepikiran seharian. Apalagi kalau lunturnya ke kain warna putih. Bunuh kaka aja, Stef.

2. Ira Selvia Butar-Butar (Ekonomi Pembangunan Universitas Jambi 2013)
Apa hal yang paling gak kau suka dari aku?
Kams, jujur aku mau jawab apa di sini aku gak tahu. Mungkin udah hampir 15 menit aku vacuum, ingat-ingat apa hal yang gak kusuka dari kau, dan aku belum nemu jawabannya. Saking cintanya aku samamu. Coba aja kau cowok, udah kutembak kau duluan (salah fokus lagi). 

25 menit kemudian....
Maaf kams, pertanyaanmu gak ada jawabannya, serius dah -_-

3. Sinta Ida Patona Sianipar (Teknologi Informatika Institut Teknologi Del 2013)
Bagaimana caranya agar pintar Bahasa Inggris?
Kayaknya si Sinta salah kasih pertanyaan nih. Harusnya pertanyaan ini jangan ditanyain ke aku yang notabene gak pintar Bahasa Inggris. Ya mungkin bisalah, tapi gak pintar juga, biasa aja kok. Jadi Sin, mungkin kau nanya ini ke aku karena kau sering lihat aku posting sesuatu yang berbahasa Inggris, atau ganti DP pake quotes, atau juga bikin PM pake Bahasa Inggris. Satu hal yang mungkin paling berpengaruh sama skill Bahasa Inggris ku adalah AEC. Ini adalah tahun ketiga aku jadi bagian di organisasi ini, organisasi yang udah aku anggap keluarga, rumah. AEC itu English Club yang ada di fakultasku. Di sana kami ngomong pake Bahasa Inggris, berkegiatan pake Bahasa Inggris, ikut lomba cabang Bahasa Inggris, routine class, dll. Mungkin ini yang udah banyak bantu aku buat ningkatin skill Englishku, tapi bukan berarti aku expert ya, Sin.

4. Gina Stevani Nainggolan (Akuntansi Universitas Katolik Medan 2013)
Kenapa kau makin cantik, Vetro?
Kata orang, jangan ketipu sama kamera. Belum tentu orang yang cantik di media sosialnya, sama cantiknya dengan aslinya. Gin, jangan ketipu juga sama foto-foto dedek ya. Dedek gak secantik yang kamu kira kok. Dedek mah masih biasa aja, sama kyk dulu. Kau belum lihat aja jerawatku yang sekarang. heuheu. Tapi makasih deh udah bilang aku makin cantik. Kau juga kok.

5. Dedy Pribadi Siagian (Teknik Mesin Universitas Brawijaya 2013)
Kau kenapa masih memilih jomblo?
Ada satu quotes yang menurutku bagus pake banget. "Use the opportunity of being single to love yourself and focus on making you a better person. If you're single, take advantage of it. Don't spend time wishing you had someone". Satu hal yang harus kau tahu Ded, punya pacar belum tentu bahagia kan? Apa yang kupunya sekarang ini, duniaku, teman-temanku, AEC, rasa-rasanya mereka semua udah bikin aku lupa sama status jombloku. Jujur aja, without AEC, I can't imagine how flat my life right now. Oh ya, Ded. Kenapa ya jadian sama orang yang beda agama itu salah? Kenapa jadian sama temannya mantan juga salah? Dan kenapa juga jadian sama mantannya teman toh salah? Karena yang datang dekatin aku sekarang, ya mereka yang katanya salah itu -__-

6. Heldha Oktavia Mega Puspita (Administrasi Publik Universitas Brawijaya 2013)
Apakah kamu menyukai Dimas?
Wkwk. Aku ngerasa lucu sih tiap kali ditanyain ini. Please deh, Hel. Aku tuh baru kenal Dimas di Espriex. Dan aku gak tau kenapa tiba-tiba semua orang nge-cie-cie-in kami berdua. Kalau kalian terus-terusan kyk gini sih, aku jadi segan kalau papasan sama Dimas. Suka? Mungkin suka sama senyumnya dia kali ya, haha.

7. Nofryzal Haloho (Ilmu Politik Universitas Diponegoro 2013)
Mau nikah di umur berapa?
Perlu dibahas lagi gak ya pertanyaan ini? haha. Soalnya di sesi pertanyaan yang pertama, Paulus udah pernah kasih pertanyaan yang persis kyk gini. Jawabannya Ijal, kalau aku emang udah ketemu sama pria yg tepat, pengennya sih secepatnya wkwk. Targetnya sih jangan lewat dari umur 25. Kenapa kau tanya? Ada rencanamu? wkwk.

8. Zackon Walnovalisius Pardosi (Ilmu Olahraga Universitas Negeri Medan 2013)
Nanti pas kau tamat dari kuliahmu, apa yang bakal kau lakuin? Dan kenapa kau pengen lakuin hal itu? Kalau seandainya gak bisa kau lakuin hal yang kau pengen itu, kau bakal lakuin apa?
Satu kata yang pertama kali muncul di pikiranku setelah menerima pertanyaanmu: "ASTAGAAAA" wkwk. Kita nobatkan ini sebagai pertanyaan yang paling formal dan menantang. Mungkin kalau aku udah tamat dari kuliah, aku pengennya langsung kerja. Gak usah nunggu lama lagi soalnya pengen cepat-cepat ngerasain gimana rasanya transfer duit ke ortu. Aseeeeekkkk. Trus pengennya sambil ngambil S2 sih. Dan kalau udah selesai, abis tu pengennya langsung nikah. Nanti rumah baru, perabot baru, semuanya harus aku yg ngurus. wkwk. Kalau gak bisa? Gak boleh, Val! Ini harus tercapai!

9. Bernandho Sitorus (Pendidikan Kewarganegaraan Universitas Negeri Medan 2013)
Aku kek mana menurutmu orangnya, Nel?
Well, aku disuruh ngedeskripsiin satu orang yang menurut aku baik tapi ngeselin. Dan ngeselin tapi baik. Aku jadi ingat Ask.fm nih, (Nel, tolong A-Z in aku dong) haha. First, kalau denger nama Bernandho, aku langsung ingat dia pernah ngasih aku cokelat di hari valentine pas bimbingan kelas XII lalu. Kami sebut dia tuyul soalnya dulu itu badannya masih imut-imut kecil. Kalau sekarang mungkin sebutannya udah ganti jadi gajah. Bernandho ini teman yang kadang suka alay. Sok perhatian. Bisa dibilang gatel haha (maaf ya ber kalau suatu saat kau baca ini :D) Tapi emang kenyataannya gitu kok wkwk. Dia suka banget yang namanya gombal gak jelas. Fansnya Sam Smith dan Ed Sheeran. Trs apalagi ya? Udah itu dulu aja ya. Heuheu

10. Hara Agum Gumelar Parhusip (Administrasi Bisnis Universitas Brawijaya 2012)
What is your life path? Short term, middle term, and long term?
 Hhhmmm. Agak nyesal juga nanya ke Bang Hara ini haha. Pertanyaannya bahkan lebih berat daripada pertanyaan si Noval. Sejujurnya, aku bukan termasuk tipe orang yang suka mikirin life path dan semacamnya. Karena aku lebih suka ikut aliran. Let it flow istilahnya. Mungkin kita permudah aja dengan jawaban yang singkat ya hehe. Jadi sorry kalau agak basi. My short term, aku pengen magang di salah satu konsultan pajak ternama di Surabaya. Semuanya harus berjalan dengan lancar mulai dari pengajuan, pelaksanaan, sampai laporan. Amiiinnn. My middle term, mungkin jalan hidup yang kudambakan sekarang ini adalah wisuda dengan predikat yang memuaskan. Dilancarkan semua mata kuliah yang sedang dan belum kutempuh. Dan untuk long term nya, aku pengen kerja yang bagus, jalan-jalan ke luar negeri, dan punya keluarga yang hebat. Amin amin amin.

Finally, selesai deh sesi tanya yang kedua. Terima kasih buat 10 orang hebat yang udah kasih pertanyaan-pertanyaannya. Selamat berjumpa di sesi pertanyaan ketiga, yang entah kapan, dan dengan siapa aja, dan dengan pertanyaan apa aja. Byeeeee :D

Rabu, 23 Maret 2016

Kamu

Kok kenapa rasa-rasanya aku selalu ketemu sama kamu?

Aku pas di parkiran, ketemu kamu.
Aku lewat mading, ketemu kamu.
Aku lagi di AEC, kamu datang berkunjung.
Aku lewat gedung D, lihat kamu di dalem.
Aku mau naik ke gedung A, katanya ada kamu di basement.
Aku mau ke toilet, kamu duduk di teras sekber.
Aku mau pesan makan ke kantin, kamu pas berdiri di depan pintu.
Aku mau pulang ke kosan, ketemu kamu di tempat makan.

FIA sesempit itu ya?

Btw mereka selalu sebut nama kamu loh tiap ketemu aku.
Mereka juga singgung-singgung nama kamu di grup chat kami.
Kamu tahu kenapa?

Selasa, 13 Oktober 2015

Karena bukan waktu yang singkat aku duduk sebangku denganmu selama 2 tahun

Bolehkah aku bilang bahwa aku begitu bahagia ketika kita berkomunikasi lagi di akhir bulan September kemarin? Itu membuatku seperti mengingat cerita masa SMA dulu. Untukmu yang aku tak ingin sebutkan nama, aku akan bercerita gamblang tentang semua perasaanku setelah kita pisah 2 tahun yang lalu.

Kalau melihat ke belakang, sebenarnya sangat tak adil kita bisa berpisah semudah itu. Hanya karena jarak. Atau bahkan hanya karena kebodohanmu. Ceroboh. Gengsi yang berlebihan. Dan dusta.
Terima kasih Tuhan sudah memberikanku kesempatan untuk menyampaikan rinduku kepada laki-laki ini.

Laki-laki yang mengakui kerinduannya setelah aku yang pertama jujur bahwa aku rindu. Dia mengaku gengsi, katanya sudah lama rindu tapi selalu dipendam. Takut kalau-kalau aku akan menertawai kejujurannya. Takut karena menurutnya, merindukanku adalah suatu kesalahan.  Takut karena sepengetahuannya, aku masih menjadi milik seseorang di sana.

Laki-laki yang tak percaya bahwa aku sudah sendiri selama setengah tahun lebih. Tapi aku heran. Mungkinkah kepercayaanmu kepadaku seburuk itu sayang? Karena tak mungkin aku terlalu berani mengakui kerinduanku kepadamu, lalu kemudian mengarang cerita bahwa aku telah putus dari kekasihku.

Tuhan, laki-laki ini tak banyak berubah. Masih saja mengutamakan gengsinya. Masih saja tak bisa bersikap dewasa. Tiba-tiba mengucapkan selamat malam hanya karena aku mengkritik leluconnya. Padahal aku masih ingin berbincang banyak. Nostalgia tentang cerita kami yang dulu, cerita yang begitu indah hingga akhirnya dia sendiri yang mengacaukannya. Membawa perahu kami menepi ke dermaga wanita lain.

Tapi jujur saja aku sudah memaafkan kesalahan itu. Ya, kesalahan. Dia sendiri pun mengakuinya. Dia bilang bahwa di dalam benak terdalamnya, saat itu dia tidak berharap ada yang namanya perpisahan. Dia berharap hubungan kami berhasil. Hanya saja, saat itu dia sudah tak bisa melakukan apa pun lagi. Bahkan untuk membela diri dengan embel-embel kata jarak. Karena dia tahu, seseorang telah berdiri di belakang kami, menggenggam senjata untuk membuat masalah semakin membesar hingga memisahkan kami berdua. Haruskah aku percaya? Atau layakkah untukku mengharap kisah itu terulang kembali? Aku sempat berpikir, “Jangan gegabah, Nel. Mungkin saja kamu sedang terbawa suasana kegalauan tengah malam. Bisa saja yang kamu rindukan bukan laki-laki ini, tapi hanya kenangannya.”

Perbincangan kami semakin mendetail terbawa arus nostalgia SMA. Hingga dia harus mengorek-ngorek alasan mengapa aku berpisah dengan laki-laki yang terakhir kali kupanggil pacar. Aku sudah memberitahu sebagian besar intinya. Tak ada gengsi. Laki-laki ini sudah terbiasa menjadi tempat curhatanku semenjak di bangku masa putih abu-abu dulu. Rasanya nyaman sekali Tuhan. Nyaman sekali menuangkan semua keluh kesahku kepadanya. Aku sempat bertanya apakah dia mengerti dengan semua penjelasanku, karena kata-kata yang kutuangkan sudah berjejer sangat rapi seperti deretan gerbong kereta api.

Jawabannya singkat. Singkat, padat, dan sangat jelas. Benar saja aku tersentak. Tak heran dadaku mulai merasakan sesak. Mataku mulai berkaca-kaca. Pikiranku langsung kacau, entah aku harus senang, terharu, atau galau. “Tak mungkin aku ragu. Karena bukan waktu yang singkat aku duduk sebangku denganmu selama 2 tahun,” Itu jawabannya. Itu pernyataannya yang membuatku sejenak kacau sambil terdiam mengimajinasikan masa-masa 2 tahun terindah itu. Aku hampir gila.

Tapi tunggu dulu sayang. Benarkah kau sudah betul-betul mengerti tentang siapa aku? Karena ada satu tonggak pernyataan yang gagal kau artikan dariku.  Saat aku bilang bahwa satu alasanku berpisah dengan mantanku adalah karena aku tak menemukan zona nyamanku di tengah teman-temannya. Lalu kau bilang kamu mengerti, karena aku tak nyaman dengan orang-orang baru. Salah sayang. Bukan itu. Jelas saja kau sudah salah.

Kemudian ada satu lagi. Laki-laki ini bilang dia menyesal pernah melakukan kesalahan itu, kesalahan yang menurut dia memang kesalahan besar dan bukan main-main. Hingga tak bisa tidur nyenyak selama sebulan. Menyanyikan lagu, memetik senar gitarnya seraya menyelipkan namaku di lembaran lirik lagunya. Tuhan, kenapa harus seperti ini pengakuan laki-laki ini? Aku ingin sekali menatap langsung pada matanya yang kurindukan itu. Memastikan rasa yang dia pendam, entah memang masih ada atau benar sudah pupus terbuang sempurna.

Tuhan, setidaknya aku tahu bahwa Kau mengerti apa yang terbaik pada masing-masing kami.

Harapanku hanya satu. Sederhana tapi rumit. Ubah mindset mu sayang, tanamkan pohon kedewasaan di dalam pikiranmu, pohon yang buahnya sudah matang, bukan lagi pohon yang selalu berbuah mentah dengan rasa gengsinya untuk berubah mendapatkan rasa terbaiknya.