Aku
tertegun melihatnya dengan mata memerah. Tampaknya banyak sekali beban yang
dipikulnya. Sepertinya dada itu sudah sangat sesak. Aku mengertilah kenapa dari
tadi tangannya selalu dikepal seperti itu. Ada suatu kemarahan yang ingin
dilampiaskannya. Tapi kepada siapa? Dia di sana hanya sendirian. Sangat tak
mungkin bila dia marah pada rerumputan, atau pada kupu-kupu yang hinggap di
sandaran bangku yang didudukinya.
Aku
pandangi dia dari sisi lain di taman itu. Mungkin dia tak menyadari aku ada di
sini, melihatnya dan mengawasinya. Pria itu, dia lelaki yang tampan. Kulitnya
bersih. Tak putih bening, tapi indah dilihat. Rambutnya, aku suka. Mirip rambut
tokoh kartun kesukaanku, Gaara. Ada sebuah mata kalung di tangannya. Aku
melihat dengan jelas, ya, itu mata kalung. Tapi, tapi kenapa rantai kalungnya
ada di sampingnya? Sebenarnya milik siapa kalung itu? Sepertinya itu yang
membuat dia duduk tak tenang di bangku itu. Matanya sangat memerah,
pandangannya kosong ke depan.
Aku
baru melihatnya hari ini. Sebelumnya belum pernah bertemu. Aku susah jatuh
cinta. Tapi kali ini aku betul tertarik padanya. Hei kamu, kamu yang punya
rambut serupa dengan tokoh kartun kesukaanku. Bolehkah aku ke sana? Duduk di
bangku di sebelahmu. Aku ingin berikan sedikit genggaman yang aku berjanji akan
membuatmu lebih tenang. Kau sedang gelisah pun terlihat tampan. Tak bisa
kubayangkan seberapa mempesonanya kau jika tersenyum sedikit saja. Apalagi
kalau tersenyum untukku.
Sayang,
bolehkah? Sayang!? .........
Bolehkah
aku memanggilmu sayang? Hhhh, siapalah aku. Aku cuma seseorang yang mengagumimu
dari sudut lain di taman ini. Bahkan aku tak tahu siapa namamu. Di mana
rumahmu. Berapa usiamu. Dan kalung siapa yang sedang bersamamu di situ.Tapi
sungguh, aku tertarik kepadamu.
Hai
rerumputan. Ayolah sedikit bekerja sama denganku, sekali ini saja. Bantu aku
tanyakan dia namanya, dan sedang apa dia duduk gusar di ujung sana. Kirimkan
pesanku pada teman-temanmu yang lain, beritahu misi ini pada kawanan rerumputan
di sekelilingnya. Aku sedang jatuh cinta. Aku suka dia. Aku benar aku suka dia.
Lelaki itu. Lelaki yang pertama kali ini kulihat, tapi sudah pandai mencuri
hatiku. Rambutnya yang paling menarik. Indah sekali.
Pernahkah
kau jatuh cinta pada seseorang yang pertama kali kau lihat? Kau bukan hanya
sekedar suka. Tapi lebih dari itu. Kau akan merasa jantungmu berdetak lebih
kencang. Kau tak akan bisa bohong kalau matamu tak ingin lepas memandangnya.
Sedikit demi sedikit, keringatmu akan mulai bercucuran. Kau akan sangat berniat
untuk beranjak menemuinya, duduk di sampingnya, dan menghirup aromanya.
Jangan pergi sayang. Jangan ke mana-mana, tetaplah di situ. Biar bebas aku memandangimu dari tempat ini. Daaannnnn...... AKhirnya kau pergi juga.
Jangan pergi sayang. Jangan ke mana-mana, tetaplah di situ. Biar bebas aku memandangimu dari tempat ini. Daaannnnn...... AKhirnya kau pergi juga.
“Namaku Samuel. Siapa namamu?” Kulihat ke belakang. Dia menyodorkan sebuah jabatan tangan padaku. Dia, lelaki yang dari tadi kuawasi di sudut sana. Rerumputan, terima kasih sudah menyelesaikan misi kita dengan baik. :’)







0 komentar:
Posting Komentar