Ada apa dengan semua orang? Apakah hobi memang dapat dengan mudahnya menggantikan cinta yang katanya dianggap berharga? Aku yang jadi terlalu pesimis. Pandanganku entah kenapa malah jadi semakin sempit. Dunia yang besarnya sebegini luas, kini kuanggap hanya selebar daun kelor. Sebegitu sibuknyakah mereka dengan dunianya? Mereka bahkan menutup mata dengan siapa yang setiap hari menunggu kabarnya.
Orang-orang itu merindukan kalian hai penggemar kopi hangat. Bukalah sedikit celah untuk mereka merasa bahwa kau masih pedulikannya, kalau kau masih memikirkan tentangnya. Aku iba dengan mereka. Miris melihatnya bernafas sedikit sesak. Makanan selezat dan semahal apa pun sudah tak dihiraukan lagi di hadapannya. Tak ada selera makan. Tak ada tenaga untuk mengunyah. Semuanya hilang terbawa kecemasan dalam penantian untuk kabarmu. Mata mereka berkaca-kaca. Seolah air matanya telah habis hingga tak ada yang harus diteteskan lagi.
Mereka bercerita, kalian sering pergi tanpa tinggalkan pesan. Kalian jahat. Kalian ingkar janji. Dunia kalian sudah berbeda bukan? Seperti tak ada lagi yang menjadi kisah bersama. Semuanya jadi bersifat pribadi-pribadi. Pandanganku tak melihat adanya cahaya terang di depan sana. Kalian sudah merebut semuanya. Bak diinjak-injak di hadapan mereka yang seharusnya kalian sendiri yang berikan pelukan hangat. Harusnya kalian yang menenangkan mereka. Harusnya kalian.
Kenapa mereka jadi mencari aku? Itu karena mereka tak mengerti harus bercerita kepada siapa. Kalian tak pernah ada di saat mereka akan mengadu. Kalian terlalu sibuk dengan hobi! Kalian lupa kalau kalian masih punya mereka. Mereka butuh kalian. Pulanglah! Pulang ke rumah! Hentikan jeritan mereka dan dengarkan semua cerita yang kau tinggalkan. Hentikan bertanya, kalian masih ingin bertanya mengapa? Kalian menyalahkan mereka? Mereka salah apa? Mereka sudah memanggil kalian, bahkan sesekali memaksa. Tapi kalian yang tak pernah dengar. Tak peka. Tak punya rasa. Mereka selalu berpikiran positif, menunggu kalian berikan kabar. Tapi tak kunjung nyata, sampai akhirnya mereka lelah dan bercerita kepadaku. Aku tak berharap banyak saat aku menyampaikan ini. Semuanya terlalu rumit untuk kuselesaikan. Mereka berharap pada kalian. Terserah mau sadar sampai kapan. Aku dan mereka tak pernah memaksa. Satu yang harusnya kalian tahu, mereka pencemburu besar! Renungkanlah!







0 komentar:
Posting Komentar