If reading is HOT and writing is COOL. Therefore, read my writing is an awesome thing.

Senin, 22 Desember 2014

Kerinduan yang Tak Berujung

Kerinduanku tak pernah berujung. Kutatap langit-langit kamarku sembari berbaring di atas kasur yang membuatku nyaman untuk terus berkhayal. Khayalan tentang dia yang setiap hari kurindukan. Bahkan lebih dari sekedar kata rindu. Disebut apa lagi jika perasaan itu sudah berada di atas rindu? Tak pernah kutemukan cara yang tepat untuk mengikis kerinduan itu. Bahkan sejak pertama kali kami berpisah di hari keberangkatanku ke pulau yang berbeda. Pelukan itu tak lagi kurasakan. Hanya membayangkan. Begitu hangat. Hangat seperti tak ada tandingannya.

Dia adalah segalaku. Dia yang wajahnya paling indah dan bersinar bahkan ketika bantal menekan wajahnya saat sedang tertidur. Bulanku. Matahariku. Bintangku. Dia yang paling mengerti setiap gerak-gerik dan segala tingkahku. Yang menangis melihat keberhasilanku. Yang memeluk di mimpiku ketika malam. Dan yang berdoa buat kebaikanku.

Aku menyayanginya. Mungkin lebih dari segala apa yang kupunya. Bangga sekali melihatnya karena dia punya banyak orang yang juga mengaguminya. Senang menjadi seseorang yang bisa setiap hari berada di dekatnya. Aku orang yang beruntung. Sangat beruntung, bahkan.

Hhhh, lihatlah apa yang kutuliskan di paragraf ketiga. Setiap hari berada di dekatnya? Itu dulu, sekarang tak lagi. Kini saja aku masih terbaring sendiri di atas kasurku. Demi mengejar apa yang dapat memuaskan dia, aku sekarang di sini, di pulau yang berbeda. Jauh sekali, bahkan.

Kugerakkan kepalaku sedikit menoleh ke dinding di sebelah kiri. Dia sedang tersenyum. Senyumannya begitu memesona, ya, seperti biasanya. Dengan atasan warna oranye, dilengkapi kacamata yang juga melekat di mata indahnya. Mata yang selalu berbinar-binar bak pelangi yang baru saja mekar di langit nan bersih sekali. Berharap apa yang kuperhatikan kini bukan sekedar fotonya, tapi orang yang sesungguhnya. Sekali lagi, jarak itu begitu jauh, bahkan.

Seringkali pula setiap pulang berjalan kaki sendiri, berharap-harap penuh bahwa tempat yang sedang kutuju adalah tempat di mana dia sedang menunggu. Seperti rumah. Tapi kemudian harapan itu tiba-tiba saja menepis karena sebenarnya itu bukan khayalan seturut logika, justru sebaliknya. Kalau sudah begitu, bisa saja kakiku sembari tiba-tiba melemas. Sedikit tak kuat menopang dada yang mulai terasa sesak. Sesak karena terus berkhayal di luar logika.

Jadi yang mana yang kira-kira masuk di akal? Terus berjuang seraya menunggui bulan berikutnya yang mempersembahkan libur panjang? Yah, mungkin.


Ah, aku merindukanmu, mama.

0 komentar:

Posting Komentar