Kerinduanku
tak pernah berujung. Kutatap langit-langit kamarku sembari berbaring di atas
kasur yang membuatku nyaman untuk terus berkhayal. Khayalan tentang dia yang
setiap hari kurindukan. Bahkan lebih dari sekedar kata rindu. Disebut apa lagi
jika perasaan itu sudah berada di atas rindu? Tak pernah kutemukan cara yang
tepat untuk mengikis kerinduan itu. Bahkan sejak pertama kali kami berpisah di
hari keberangkatanku ke pulau yang berbeda. Pelukan itu tak lagi kurasakan.
Hanya membayangkan. Begitu hangat. Hangat seperti tak ada tandingannya.
Dia
adalah segalaku. Dia yang wajahnya paling indah dan bersinar bahkan ketika
bantal menekan wajahnya saat sedang tertidur. Bulanku. Matahariku. Bintangku.
Dia yang paling mengerti setiap gerak-gerik dan segala tingkahku. Yang menangis
melihat keberhasilanku. Yang memeluk di mimpiku ketika malam. Dan yang berdoa
buat kebaikanku.
Aku
menyayanginya. Mungkin lebih dari segala apa yang kupunya. Bangga sekali
melihatnya karena dia punya banyak orang yang juga mengaguminya. Senang menjadi
seseorang yang bisa setiap hari berada di dekatnya. Aku orang yang beruntung.
Sangat beruntung, bahkan.
Hhhh,
lihatlah apa yang kutuliskan di paragraf ketiga. Setiap hari berada di
dekatnya? Itu dulu, sekarang tak lagi. Kini saja aku masih terbaring sendiri di
atas kasurku. Demi mengejar apa yang dapat memuaskan dia, aku sekarang di sini,
di pulau yang berbeda. Jauh sekali, bahkan.
Kugerakkan
kepalaku sedikit menoleh ke dinding di sebelah kiri. Dia sedang tersenyum.
Senyumannya begitu memesona, ya, seperti biasanya. Dengan atasan warna oranye,
dilengkapi kacamata yang juga melekat di mata indahnya. Mata yang selalu
berbinar-binar bak pelangi yang baru saja mekar di langit nan bersih sekali.
Berharap apa yang kuperhatikan kini bukan sekedar fotonya, tapi orang yang
sesungguhnya. Sekali lagi, jarak itu begitu jauh, bahkan.
Seringkali
pula setiap pulang berjalan kaki sendiri, berharap-harap penuh bahwa tempat
yang sedang kutuju adalah tempat di mana dia sedang menunggu. Seperti rumah. Tapi
kemudian harapan itu tiba-tiba saja menepis karena sebenarnya itu bukan
khayalan seturut logika, justru sebaliknya. Kalau sudah begitu, bisa saja
kakiku sembari tiba-tiba melemas. Sedikit tak kuat menopang dada yang mulai
terasa sesak. Sesak karena terus berkhayal di luar logika.
Jadi
yang mana yang kira-kira masuk di akal? Terus berjuang seraya menunggui bulan
berikutnya yang mempersembahkan libur panjang? Yah, mungkin.
Ah,
aku merindukanmu, mama.







0 komentar:
Posting Komentar