Dear Past, Thank You for All The Lesssons

There is no time to see backwards. Your future is still pure enough.

The only thing worse than being blind is having sight but no vision

When something bad happens, you have three choices. You can either let it define you, let it destroy you, or you can let it strengthen you.

Do You Know? You are Your Own Hero. Be Brave!

Don't die from a broken heart.

It is Never Too Late to be What You Might Have Been

If you were not happy with yesterday, try something different today. Don't stay stuck.

Things Work Out Best for Those Who Makes The Best of How Things Work Out.

Just believe in yourself. Even if you don't, pretend that you do, and at some point, you will.

If reading is HOT and writing is COOL. Therefore, read my writing is an awesome thing.

Kamis, 15 Januari 2015

Karena aku pengen kita cuma jalan berdua

Siang itu saat suasana kelas sudah semakin sepi, teman-teman yang lain mulai berpulangan dan meninggalkan bangkunya. Aku masih duduk di bangku milikku, yang kutahu aku memandang ke bawah, seragamku masih berwarna putih-putih, dan dinding kelasnya juga berwarna putih. Aku duduk di lorong kedua dari pintu, kira-kira di bangku barisan ke empat dari depan. Kemudian seseorang datang dari belakangku, menyuapi sesuap mie gomak langsung dengan tangannya, tanpa sendok. Kuangkat kepalaku dan kulihat wajahnya, kurasa itu David. Sekilas kulihat juga kau melewati bangkuku dari sebelah kanan. Lalu aku bertanya pada David, "Masih halalkah mie ini?" Haha.

Masih mengunyah mie itu, kau tiba-tiba datang dan duduk di bangku di depanku. Menghadap ke belakang dan melihatiku dengan senyuman. Sesekali mie itu tumpah dan kutampung dengan tangan, tapi aku sangat santai, tak sedikit pun malu meskipun kau masih melihatiku. Kemudian kau berdiri dan berhenti di samping kiriku, tepat sekali dekat dengan tanganku. Kau membungkuk, mengarahkan wajahmu ke wajahku, semakin dekat. Kau bilang, "Sehabis ini mau ke mana?" Lalu kujawab aku akan segera pulang, mungkin sebentar lagi. "Biar kita pulang berdua siang ini." Aku dengar kau bilang begitu padaku. Lalu kau menyambungnya lagi, "Hari ini kita pergi ke mana?" Yang terlintas di pikiranku adalah pegunungan dengan belerang, sejauh aku memandang semuanya hanya berwarna putih, dan hanya ada kita berdua, karena aku memang sangat ingin kita jalan hanya berdua, cuma aku dan kamu.

Setelah aku berhenti berkhayal, kelas sudah benar-benar sepi. Sekarang yang tertinggal cuma aku. Tak ada siapa pun lagi di sana, tak ada David, bahkan kamu yang tadi berdiri di sampingku. Kemudian aku pulang, aku pulang sendirian. Yang kuingat, aku pulang dari jalan yang tak biasa. Di mana-mana hanya ada kebun teh. Aku sedikit cemas tak bisa menemukan jalan keluar dari sana, kemudian aku berlari dengan kencang. Tiba-tiba aku terhenti, ada sebuah jaket di atas dahan-dahan teh itu, kuambil dan kulanjutkan perjalananku.

Sebentar kemudian kurasa aku sudah menemukan jalan keluar. Dan aku tak tahu jalan apa yang kulihat itu. Sama sekali tak mengenalinya. Dari tempatku berdiri, kulihat tiga motor melaju kencang melewatiku, yang kulihat kau mengendarai motor yang terakhir, motor hitam besar mirip motor polisi. Aku langsung berpikir kalau kau datang untuk menjemputku ke kelas yang tadi, padahal aku sudah pulang, kita tak akan jadi pulang berdua siang ini. Aku bergerak lagi keluar dari kebun teh itu, lalu Jefri dan Miduk lewat lagi dengan motor. Kali ini mereka melaju dengan lambat. Aku memanggilnya, dan mereka berdua berhenti tepat di depan sebuah warung di ujung kebun teh itu. Jefri bertanya,"Ngapain di sini? Samuel menjemputmu." Karena bingung, aku jadi menjawab, "Aku haus mau cari minuman." Mendengar itu dia langsung membelikanku minuman di warung di depan kami, kemudian bertanya lagi, "Cuma ini?" Lalu kusambung, "Aku juga mau roti kacang hijau, tiga." Miduk cuma berdiri dengan tatapan yang kurasa dia tak suka denganku. Pandangannya tak enak.

Selesai itu, aku tak ingat apa-apa lagi.

Dan akhirnya aku terbangun, jadi itu cuma mimpi.

Di mana bintang yang banyak itu, Tip?

"Malam ini langitnya indah. Ada banyak bintang di luar." Begitulah PM yang kubaca dari salah seorang teman di kontak BBM ku. Seusai menonton film berjudul The Day The Earth Stood Still, aku langsung menyingkap horden kamarku. "Di mana bintang yang banyak itu, Tip? Langitnya cuman punya satu," kataku dengan begitu kecewa. Berbicara sendiri karena memang aku sedang tak ada teman saat ini.

Apa cuman langit di luar jendelaku yang hanya punya satu bintang? Apa mungkin langit di luar jendela dia memang punya yang lebih banyak? Aku pikir akan bisa menatap langit yang seperti yang dia maksud malam ini. Ingin bercerita dengan mereka. Ternyata yang ada hanya satu. Mungkin langit menyindirku juga, memantulkan kesendirianku dengan memperlihatkan kesendirian bintang itu.

Aku rindu rumah, Tuhan. Aku mau pulang. Aku gak bisa berkata banyak, kurasa Engkau sudah tahu semuanya. Rosario yang selalu kubawa menemaniku tidur setiap malamnya, mengucap curhatan-curhatan kerinduan akan rumah dan semua keluargaku. Aku tahu Kau pasti benar-benar hadir di sudut ruangan kamar ini, memandangiku terkadang dengan tetesan air mata bukti kerinduan itu. 

Tuhan, bawa aku ke tengah-tengah mereka di dalam mimpi, untuk malam ini.

Senin, 22 Desember 2014

Kerinduan yang Tak Berujung

Kerinduanku tak pernah berujung. Kutatap langit-langit kamarku sembari berbaring di atas kasur yang membuatku nyaman untuk terus berkhayal. Khayalan tentang dia yang setiap hari kurindukan. Bahkan lebih dari sekedar kata rindu. Disebut apa lagi jika perasaan itu sudah berada di atas rindu? Tak pernah kutemukan cara yang tepat untuk mengikis kerinduan itu. Bahkan sejak pertama kali kami berpisah di hari keberangkatanku ke pulau yang berbeda. Pelukan itu tak lagi kurasakan. Hanya membayangkan. Begitu hangat. Hangat seperti tak ada tandingannya.

Dia adalah segalaku. Dia yang wajahnya paling indah dan bersinar bahkan ketika bantal menekan wajahnya saat sedang tertidur. Bulanku. Matahariku. Bintangku. Dia yang paling mengerti setiap gerak-gerik dan segala tingkahku. Yang menangis melihat keberhasilanku. Yang memeluk di mimpiku ketika malam. Dan yang berdoa buat kebaikanku.

Aku menyayanginya. Mungkin lebih dari segala apa yang kupunya. Bangga sekali melihatnya karena dia punya banyak orang yang juga mengaguminya. Senang menjadi seseorang yang bisa setiap hari berada di dekatnya. Aku orang yang beruntung. Sangat beruntung, bahkan.

Hhhh, lihatlah apa yang kutuliskan di paragraf ketiga. Setiap hari berada di dekatnya? Itu dulu, sekarang tak lagi. Kini saja aku masih terbaring sendiri di atas kasurku. Demi mengejar apa yang dapat memuaskan dia, aku sekarang di sini, di pulau yang berbeda. Jauh sekali, bahkan.

Kugerakkan kepalaku sedikit menoleh ke dinding di sebelah kiri. Dia sedang tersenyum. Senyumannya begitu memesona, ya, seperti biasanya. Dengan atasan warna oranye, dilengkapi kacamata yang juga melekat di mata indahnya. Mata yang selalu berbinar-binar bak pelangi yang baru saja mekar di langit nan bersih sekali. Berharap apa yang kuperhatikan kini bukan sekedar fotonya, tapi orang yang sesungguhnya. Sekali lagi, jarak itu begitu jauh, bahkan.

Seringkali pula setiap pulang berjalan kaki sendiri, berharap-harap penuh bahwa tempat yang sedang kutuju adalah tempat di mana dia sedang menunggu. Seperti rumah. Tapi kemudian harapan itu tiba-tiba saja menepis karena sebenarnya itu bukan khayalan seturut logika, justru sebaliknya. Kalau sudah begitu, bisa saja kakiku sembari tiba-tiba melemas. Sedikit tak kuat menopang dada yang mulai terasa sesak. Sesak karena terus berkhayal di luar logika.

Jadi yang mana yang kira-kira masuk di akal? Terus berjuang seraya menunggui bulan berikutnya yang mempersembahkan libur panjang? Yah, mungkin.


Ah, aku merindukanmu, mama.

Jumat, 12 Desember 2014

Juara III

Hai blog ku yang sudah lama gak diupdate, maaf ya sayang, aku sibuk kali kemarin-kemarin. Mau bagi cerita soal Olimpiade Brawijaya. Langsung aja ya.

Jadi ceritanya pas tanggal 29 Agustus kemarin Bang Hara chat aku di BBM, katanya sih ada kabar baik. Dan ternyata kabar baiknya itu tentang Olimpiade Brawijaya cabang Newscasting. Newscasting itu semacam pembawa acara berita yang penyampaiannya 100 persen dengan Bahasa Inggris. Jujur jadi pembawa acara berita merupakan salah satu keinginanku yang sangat besar sejak kelas 2 SMP. Makanya responku sama kabar yang dikasih Bang Hara itu langsung senang banget, I mean, itu bukan cuma kabar baik buatku, tapi kabar yang sangat sangat baik. Di awal aku memang sempat ragu, yang selama ini kubayangkan adalah jadi pembawa acara berita dengan Bahasa Indonesia, gak pernah sama sekali terbayangkan bakal bawa berita pakai Bahasa Inggris. Yang pertama kali kuberitahu adalah mama, meminta saran dan nasihat dari dia. Mama kasih respon positif, bahkan kalau aku boleh bilang, mama lebih optimis dibandingkan aku, kesenangannya dengar berita itu bahkan lebih daripada kesenangan yang kurasakan sendiri. 

Malam itu juga aku langsung buka situs web Olimpiade Brawijaya. Yang kudapati tentang Newscasting adalah:
1. Membawakan berita yang teksnya sudah disiapkan masing-masing peserta dengan waktu yang sudah ditentukan secara berpasang-pasangan per fakultas.
2. Membawakan berita yang teksnya akan disediakan oleh panitia dan baru akan diberikan sewaktu giliran tampilnya.
3. Membawakan Direct Report (reporter) yang temanya baru akan diberikan saat pertandingan.

Itu masih tentang kompetisi Newscasting tahun lalu, untuk peraturan tahun ini pengumumannya belum terupdate, aku masih belum tahu apa bakal ada perubahan atau tetap menggunakan 3 kriteria di atas. Satu yang pasti, jujur aku optimis untuk kriteria di angka 1 dan angka 2 nya, tapi malah sebaliknya, merasa pesimis untuk membawakan direct report (angka 3). Alasannya aku merasa kalau vocabulary ku masih sangat kurang, padahal seharusnya yang diandalkan untuk direct report adalah banyaknya perbendaharaan kata kita dalam Bahasa Inggris. Itu sebenarnya yang menjadi titik pusat keraguanku untuk melangkah maju ikut kompetisi.

Setelah dukungan dari keluarga terlebih-lebih mama, aku juga dapat motivasi yang terbilang besar dari si doi, Samuel. Keraguanku langsung ditepis sama dia. Samuel bilang aku harus coba dulu semaksimal mungkin. Jangan langsung nyerah sebelum peperangan dimulai. Yang terpenting adalah usaha. Masuk atau tidak itu urusan belakangan. Katanya wonder woman, tapi kalau langsung ngerasa kalah sebelum bertanding, bukan wonder woman lagi namanya. Haha

Tanggal 8 September. Saat itu kebetulan aku lagi menghadiri general meeting di AEC (Administration English Club) di kampus. Setelah selesai rapat, Ka Veni yang selaku official Newscasting langsung mengajakku berbicara, memberitahukan seluk-beluk newscasting dan menanyakan kesediaanku bergabung untuk diseleksi dulu. Tanpa pikir panjang, saat itu aku langsung bersedia ikut. Hal yang belum kuketahui sebelumnya, ternyata untuk lomba cabang newscasting itu akan dikirimkan 2 orang per fakultas, 1 perempuan dan 1 laki-laki. Dan untuk newscasting, fakultas sudah menyerahkan keputusannya kepada AEC. Dan tebak saja, AEC sudah menentukan perwakilan laki-lakinya, dan memilih 2 kandidat perempuan yang untuk diseleksi kembali, yaitu saya dan Bepe.

Tanggal 10 September. Itu adalah tanggal seleksi antara aku dan Bepe. Bukan sombong, tapi aku optimis merasa lebih unggul dari temanku yang kebetulan sama-sama anak Pajak itu. Hasil seleksi akan diberitahukan malamnya, dan Puji Tuhan, ini pesan yang kuterima dari Ka Veni sekitar pukul 8 malam:
Hi, good evening. Congratulation for being a delegation of AEC for newscasting, OB. Don't forget to always practice before the day is coming.

Setelah melengkapi semua persyaratan, akhirnya sah, aku dan temanku Galih menjadi delegasi FIA di Olimpiade Brawiajaya cabang newscasting. Tanggal 15 September kami mengikuti Technical Meeting di Lobby EM sekitar pukul 3 sore. Perubahan yang kami dapati adalah bahwa setiap delegasi dari masing-masing fakultas tidak lagi dijadikan berpasang-pasangan, melainkan maju sendiri-sendiri dan mengumpulkan nilainya masing-masing. Mungkin bagi sebagian dari mereka itu adalah berita buruk, tapi untukku, itu malah berita yang baik. Newscasting diadakan selama 2 hari. Tanggal 29 dan 30 September. Perubahan kedua dari tahun sebelumnya adalah terkait dengan kriteria lomba, dan ini kriteria untuk tahun ini:
1. Membawakan berita yang naskahnya sudah dibagikan oleh panitia pada saat Technical Meeting. Menurutku ini sangat memudahkan peserta, karena kami dapat melatihnya di rumah dan  mempunyai banyak waktu untuk menguasai naskah kami sendiri.
2. Weather Forecast. Kami dituntut untuk bisa membawakan berita ramalan cuaca yang weather map-nya sendiri sudah dibagikan sewaktu technical meeting.
3. Talkshow. Kami dituntut untuk membawakan sebuah acara talkshow yang di mana narasumber yang akan kami wawancarai nanti akan diberitahukan sehari sebelum pertandingan.

Setelah pengundian nomor, aku sendiri mendapat urutan ke-7 dengan membawakan berita yang berjudul Pekanbaru blanketed by Fog. Jujur aja waktu itu aku terbilang cukup puas dapat berita ini, karena passion yang kupunya lebih terlihat meyakinkan dengan berita bernaskah buruk, bukan berita yang bernaskah have fun. Haha. Kalau weather forecast-nya, setiap peserta dapat map yang sama. Yah, kira-kira begitulah.

Setelah punya naskah news reading dan map buat weather forecast yang fixed, Ka Veni langsung menyerahkan aku dan Galih kepada Mba Fay, alumni AEC yang udah pernah pengalaman dalam newscasting competition. And guess what, Mba Fay itu cool banget, dan cara dia baca  berita itu interesting juga pake banget. H-1 minggu sebelum perang, Mba Fay kembali melempar kami ke Ka Veni. Duh, ilmu yang aku dapat dari mereka berdua itu "sesuatu" kalau kata Syahrini.

29 September. Tibalah tanggal mainnya, here we go! Pagi-pagi sekali sekitar pukul 5 aku udah bangun dan langsung mandi. Sedikit polesan make up dibantu sama Octy dan Lidya setelah aku selesai berpakaian. Sekitar jam 7 aku langsung cusss ke Gedung Rektorat. Di halaman depan, aku menjumpai Ka Veni yang ternyata udah duluan sampai daripada aku. Karena Galih lama, akhirnya kami naik duluan ke lantai 2, UB TV. Wow wow wow!!

Tingkat pede ku gak menciut sama sekali, bisa dibilang malah bisa diandalkan. Saat re-registrasi di depan UB tv, rasanya tuh kita pengen ngomong ke panitianya: "Hey, ini loh aku delegasi dari FIA mau bawa berita," wkwk, sipanggaron kalau kata orang Batak.

Finally, dimulailah kompetisinya dengan sambutan awal dari MC. Kemudian 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan akhirnya giliranku, 7. Begin to feel worry, but not too much. Cukup puas.

Setelah itu pengumuman siapa 8 orang dari 32 peserta yang lolos ke babak final. Thank God, namaku salah satunya. But unfortunately, Galih failed sampai di situ. Kembali mengundi urutan, sekalian pemilihan narasumber yang akan kita wawancarai di talkshow besok. Whaaaaattttt? Aku dapat topik dengan tema "Healthy" dan harus mewawancarai "Dokter Boyke" dengan urutan ke-5. Yang pastinya, bukan Dokter Boyke sungguhan. Digantikan sama anak Formasi, Forum English se-UB di kampus.

Googling, googling, googling. Setelah dapat banyak referensi tentang Dokter Boyke dari Om Google, finally aku udah menyusun beberapa pertanyaan yang bakal kutanyakan besok di talkshow. Notabene pertanyaan menyangkut seksualitas, sesuai bidangnya si dokter. Yuppp, funny enough.

30 September. Kali ini aku gak ditemani sama Ka Veni. Galih juga berhalangan ikut untuk menyaksikan perang hari kedua ini. Yang ada di sana kala itu adalah Mba Mely, ketua AEC, Ka Gilrita, Codiv Internal, Rama, member internal dan Rima. Ternyata membawakan talkshow terasa lebih nervous daripada news reading+weather forecast. But once again, Thank God, i did it!

Announcement!! Announcement!! Jeng..jengg.. Namaku yang pertama kali muncul di layar dan di atas nama itu ada tertulis "JUARA III" My God, aku tepuk tangan sebentar sambil bilang "yeeeyyyy" kemudian selesai. Speechless agak lama. Baru sadar lagi setelah Mba Mely kasih romantic hugging sambil nyalam dan bilang selamat. Yang lain juga ikut cipika-cipiki.

Maju ke depan. Foto Session. Verbal adjudication. Tebar senyum semanis mungkin. And then, go home. Sebelum itu singgah dulu di AEC kasih kabar baik ini.

Masih tetap gak nyangka. Aku langsung cek BBM, wow, banyak yg PM nya bilang proud sama aku. Samuel, Bernard, Eva, juga ganti DP pake fotoku megang sterofoam bertuliskan "JUARA III". Senang banget, bangga sama diri sendiri. Bangga sama orang-orang yang ikut support di belakangku.

Medali perunggu ini untukmu fakultasku, Fakultas Ilmu Administrasi, untuk AEC, terkhusus Ka Veni dan Mba Fay. Untuk Bang Hara yang merekomendasikanku. Untuk keluargaku terkhusus mama. Untuk Samuel, yang melambungkan tinggi keoptimisanku. Untuk teman-temanku yang udah bantuin, terkhusus Octy dan Lidya.

Dan untukmu penciptaku.
Haleluyaa!!

Rabu, 26 November 2014

Favorite Songs in Most Played Periode November 2014

1. Say Something by Boyce Avenue ft. Carly Rose Sonenclar
Lagu yang sebenarnya tenar dibawakan oleh A Great Big World bersama Christina Aguilera ini bercerita tentang seseorang yang mengharapkan balasan cinta dari orang yang dia sayang. Katakanlah sesuatu apa kau mau menerimaku atau malah aku harus menjauh darimu. Jangan gantungkan perasaanku, aku gak tahu apa-apa dan kuharap kau mau mengatakan sesuatu yang dapat menjelaskan perasaanmu. Aku bisa aja jadi kekasih terbaikmu jika kau menginginkannya, tapi aku juga akan benar-benar menyerah jika kau malah memutuskan untuk tidak memilihku. Lagu ini punya lirik yang terbilang sederhana. Aku makin suka ketika lagunya dibawakan oleh Boyce Avenue dengan menggandeng Carly Rose yang menurutku terbilang sukses menciptakan beberapa perubahan dari lagu aslinya. Klik di sini untuk lihat videonya.

2. Sing A Sky Full of Stars by Maddi Jane
Sebelumnya selamat untuk kembaranku, Maddi Jane buat lagu Mashup pertamanya. Lagu yang dirilis Agustus kemarin ini terbilang sangat sukses dan langsung mendapat apresiasi hebat dari para penggemar musik, terkhususnya para Maddians. Lagu cover Maddi Jane kali ini menggabungkan dua lagu dari penyanyi Ed Sheeran yang berjudul Sing dan lagu dari Coldplay yang berjudul A Sky Full of Stars. Aku paling suka waktu Maddi nyanyi di bagian Ed Sheeran yang cepat banget. Hampir gak tau dia ngomong apa haha :D Pokoknya lagu cover dia yang satu ini benar-benar beda dari lagu-lagu yang sebelumnya. Kalau penasaran langsung lihat videonya di sini.

3. Dear No One by Tori Kelly
Lagu ini bercerita tentang seorang cewek yang lebih suka jadi apa adanya dia. Dia juga gak terlalu suka sama keramaian. Gak terlalu mikirin kenapa sampai sekarang dia masih sendiri dan belum punya cowok. Tapi cewek mana yang gak pengen diperhatiin? Terkadang dia juga pengen ada seseorang yang menggandengnya, cowok yang berinisiatif ngasih jaketnya waktu dia kedinginan. Tapi terlebih dari itu, dia yakin Tuhan udah nyiapin yang terbaik buatnya di luar sana. Klik di sini untuk lihat videonya.

4. The Heart Wants What It Wants by Selena Gomez
Lagu yang berdurasi 4:36 ini benar-benar berhasil menarik perhatianku. Hampir 4 menit dari durasi fullnya, Selena Gomez terus menangis sambil menyanyikan lagunya. Katanya lagu ini menceritakan tentang kisah pribadi dia sendiri, di mana dia yang terus berjuang untuk mempertahankan hubungannya sama Justin Bieber. Banyak hal yang sebenarnya bisa jadi alasan jitu untuk ninggalin Justin, tapi hati tetap menginginkan apa yang dia inginkan. Mungkin memang bodoh, sedikit gila, semua pertengkaran seolah-olah dia yang salah. Langsung klik di sini untuk lihat videonya.

5. Just A Dream by Nelly
Ini lagu yang benar-benar ngasih pelajaran buat siapa-siapa yang mainin hati anak orang. Jangan sesukanya sama orang lain. Kalau punya cewek jangan jadi dibuat mainan. Setelah putus baru tahu rasa menyesalnya kayak gimana. Bisa apa kalau ceweknya udah move on dan dapat cowok baru? Jadinya cuma bisa mimpi, cuma bisa nahan rindu, nyesal gak ada gunanya kan. Klik di sini untuk lihat videonya.

6. All of Me by John Legend
Fix, ini lagunya romantis pake banget. Si cowok benar-benar sayang sama pasangannya. Mencintai semua kelebihan sampai kekurangannya. Dia rela ngasih semua apa yang dia punya untuk pasangannya itu. Ah, gatau lah aku mau bilang apa. Asli romantis kali liriknya. Langsung kau tengoklah videonya di sini ya :D

7. When I was Your Man by Boyce Avenue ft. Fifth Harmony
When I was your man adalah lagu asli dari penyanyi Bruno Mars. Lagu ini berceritakan tentang rasa penyesalan seorang cowok yang kehilangan ceweknya karena keegoisan dan kesombongannya sendiri. Kehilangan yang dia rasakan membuat semua hari-harinya udah terasa gak sama lagi dengan yang sebelumnya. Kesalahan yang dia buat sendiri kemudian diakui dan disesali. Melihat ceweknya sedang berdansa dengan laki-laki lain, dia tahu sudah terlalu terlambat untuk mencoba memperbaiki semuanya, hingga akhirnya dia hanya berharap agar orang yang menggantikannya dapat menjaga si cewek lebih baik lagi. Lagu ini kemudian dicover oleh Boyce Avenue bersama 5 gadis cantik, Fifth Harmony. Coveran mereka membuat lagu ini terasa lebih sanggup menyampaikan pesan dan maksudnya. Lihat videonya dengan mengklik di sini.

8. A Sky Full of Stars by Coldplay
Lagu ini menggambarkan kekaguman seseorang kepada wanita yang dicintainya. Melihatnya seperti pemandangan yang sangat indah, melihatnya di antara bintang-bintang di lembaran langit. Tak peduli seberapa sukar perjalanan yang akan didapatkan selama mencintai, cintanya akan diberikan sepenuh hati, karena sejatinya dialah penerang jalan dalam hidupnya. Klik di sini untuk lihat videonya.

9. Demons by Imagine Dragons
Kali ini lagu yang dibawakan sama Imagine Dragons yang berjudul Demons punya lirik-lirik yang kita gak bisa langsung menentukan ke mana arah dan maksud dari lagu ini. Lagu ini tampaknya punya arti tersembunyi yang begitu dalam. Dia menggambarkan bagaimana manusia sekarang ini telah banyak termakan sama kerakusan duniawi dan sisi-sisi gelap lainnya yang sadar atau tidak akan membawa kita pada kesengsaraan batin. Kita harusnya bisa lepas, semuanya tergantung pada kita, lakukanlah hal-hal yang terbaik dalam hidup, berjalan di antara cahaya terang dan ikuti jalan lurus-Nya. Langsung klik di sini untuk lihat videonya.

10. Breakeven by The Script
Cinta banget sama lagu ini. The Script bisa bawakan lagu yang menurutku ada perasaan yang terlalu kacau di dalam liriknya, di saat kita masih sayang sama seseorang, tapi dia malah pergi dan memulai hidup baru dengan orang yang lainnya. Ketika kita merasa bahwa dia adalah seseorang yang kita anggap segalanya, apa yang harus kita lakukan saat dia memilih pergi dan tak meninggalkan cinta untuk kita? Rasanya tak akan baik-baik saja. Hari-hari bahagianya akan menjadi hari terburuk kita. Kita tak akan bisa bernafas bebas padahal dia sedang bermimpi indah. Jadi apa yang harus kita lakukan? Langsung klik di sini untuk lihat videonya.

Proud to be A Colleger in Taxation University of Brawijaya Malang

Kadang masih gak habis pikir kenapa bisa sampai ke Malang. Gak habis pikir menang SNMPTN dan harus kuliah jauh-jauh di ujung Pulau Jawa ini. Sejak kecil memang sering mengkhayal. Pengen banget kalau udah kuliah nanti harus keluar dari Sumatera. Entah di mana, pokoknya harus di Jawa. Nanti kos-kosan nya harus kamar sendiri. Belanja barang-barang wajib harus warna pink. Nanti masak sendiri. Pokoknya harus hemat duit dan pintar ngatur keuangan. Menu tiap hari harus variatif, ganti-ganti biar gizinya terpenuhi, biar sehat.

Sadar apa gak, dengar nama Universitas Brawijaya baru waktu kelas 3 SMA. Waktu itu kelasku lagi hias-hias dinding kelas yang ditempelin sama nama-nama universitas tujuan kami. UNIBRAW pas banget ditempelin di belakang bangkuku. Udah gitu ukurannya yang paling besar pula dari yang lainnya. Di situ aku ngoceh-ngoceh, kenapa UNIBRAW yang paling besar sendiri? Pokoknya aku gak suka. Aku pengennya UNDIP yang ditempelin di belakang bangkuku. Sejak kelas 1 SMA aku memang menargetkan untuk ambil psikologi di UNDIP. Baru pilih perpajakan Brawijaya setelah bimbingan intensif pas kelas dua belas. Siapa yang tahu kalau aku jadinya masuk Brawijaya? Padahal dulu itu aku pernah menentang universitas ini. Udah gitu aku pernah nonton berita di TV pas Brawijaya lagi demo entah karena masalah apa aku udah lupa. Di situ aku masih meyakinkan diri untuk jangan milih univ ini, apalagi di TV itu aku sama sekali gak tertarik sama lingkungan kampusnya. Eh padahal sekarang cinta pake banget sama UB, ngerasa beruntung banget kuliah di Malang. Cuacanya enak, udaranya gak terlalu berpolusi, orang-orangnya ramah, biaya hidup murah, tingkat kriminalitasnya terbilang rendah, banyak tempat wisata, dan masih banyak lagi hal-hal yang aku gak bisa ucapkan satu per satu, yang semuanya itu kalau dipikir-dipikir aku harus banyak-banyak bersyukur bisa kuliah di sini. Tuhan itu baik banget.

Biaya kuliahku emang mahal. Gak sesuai sama ekspektasi saat mentor-mentor bimbinganku di Medika bilang "Kuliah di PTN itu murah dek." Murah darimana kalau aku harus bayar 6,5 juta per semester? Eh tapi tunggu dulu. Setelah melewati masa-masa kuliah di sini, akhirnya aku ikhlas biaya kuliahku semahal itu, karena memang fasilitasnya kuanggap sesuai sama nominal UKT nya. 

Pertama kali termangap-mangap sama UB itu pas upacara penyambutan mahasiswa baru tahunku dulu, kaget banget tetiba ada pesawat yang mutar-mutar di atas kami bawa tulisan "Welcome Raja Brawijaya" kalau aku gak salah. Kejutan banget ada universitas kayak gini nyambut mabanya pakai pesawat. 

UB juga sering banget bikin aku terharu. Kadang kalau aku ikut acara-acara gitu, tetiba aku terpikir kenapa aku bisa ada di sini, kenapa aku ikut acara ini, kenapa aku bisa teriakin "Hidup Mahasiswa!!" di lapangan rektorat UB atau di Gor Pertamina atau di Sakri. Kalau nyanyi Mars UB sering gak sadar netesin air mata, apalagi kalau ikut acara seminar terus motivator atau pembicaranya itu udah singgung-singgung orangtua. Wah, air mata wajib netes. 

Banggalah jadi mahasiswi Perpajakan UB. Univ yang sekarang udah diperhitungkan banget. Dapat gelar univ terbaik peringkat 6 se-Indonesia. Udah gitu Perpajakannya juga satu-satunya Perpajakan S1 di Indonesia. Ditambah lagi Kota Malang yang diapresiasi masuk 5 besar kota ternyaman untuk ditinggali. Kurang apa lagi coba? Benar-benar Tuhan itu sudah menyiapkan yang terbaik untuk diriku sendiri. Tugasku sekarang adalah untuk meyakinkan diri kalau aku bukan sedang bermimpi, jadi harus tetap bersyukur, bekerja keras dan terus lakukan yang terbaik.

I love you "University of Brawijaya" <3 I love you "Malang" <3

Senin, 17 November 2014

Kecewa

Banyak yang datang, banyak juga yang pergi. Yang pergi, ada yang sudah dilupakan, tapi ada juga yang masih dirindukan. Yang datang, ada yang memang diharapkan, ada yang tidak diharapkan. Hidup tak hanya tentang semalam atau sekarang. Tapi juga tentang nanti ataupun esok. Untukmu yang aku tak ingin sebutkan nama, jujur aku rindu. Meski pun di hari kemarin aku tahu kau sudah membawa luka dalam yang cukup mengejutkanku, tapi aku tak bisa menyangkalnya, aku rindu percakapan kita. Aku rindu caramu memanggil namaku. Aku rindu kepanikanku saat kau lama tak beri kabar. Aku rindu kecemburuanmu padahal kau hanya salah paham. Aku rindu semuanya. Aku jujur aku rindu.

Aku ingat kenapa dulu kita akhirnya berpisah. Aku yang mengakhiri. Tapi kupikir aku sudah memilih jalan yang benar. Tak adil untukku jika kau terus bertemu dengan mantanmu di belakangku. Kau berusaha menyembunyikannya kan? Kau pikir itu semua berjalan mulus tanpa sepengetahuanku. Tapi kau tak pernah mengerti bahwa aku tahu semuanya tentangmu, karena aku terlampau perhatian, terlalu cinta. Kau pikir aku tak tahu ke mana kau pergi setelah pulang kuliah? Dengan siapa kau pulang ke rumah? Bahkan password akun facebook mu yang kau ganti berulang kali. Aku tahu. Dan chat history siapa yang kau hapus di inbox facebook mu? Sebenarnya aku tahu.

Aku masih sayang, masih merindukanmu. Kau mungkin berpikir bahwa aku mudah melupakan kisah kita karena saat kau kirimkan kata-kata cinta tapi aku malah menyangkalnya, mengatakan bahwa semuanya sudah tak berarti lagi. Tapi kau tak pernah tahu ada tetes air mata dan dada yang sesak saat aku pura-pura tak mengharapkan lagi cinta darimu. Seandainya kau bisa lebih peka, apa kau masih merayu dan mengejar cintaku yang mulai ragu karena kebodohanmu?

Long Distance Relationship. Mungkin karena itu, karena aku sudah terlalu lama tak benar-benar ada di sampingmu. Sementara mantanmu, di saat yang sama, dia malah mengajakmu keluar di sabtu sore. Maafkan aku karena aku lolos SNMPTN ke Kota Malang. Maafkan aku karena aku melanjutkan kuliah ke luar kota. Maafkan aku sebab karena itu aku jadi tak pernah bisa benar-benar hadir di hadapanmu. Mungkin semuanya memang salahku. Tak apa, biar aku tetap menyayangimu meskipun luka yang kau ciptakan begitu tepat menyakiti hati.

Tapi satu. Kerelaanku mengakhiri kisah kita tak lain dan tak bukan hanyalah untuk kebahagiaanmu. Aku melepasmu agar kau bisa tetap bersamanya dan tak perlu membagi waktu untukku yang jauh di pulau berbeda. Apa aku salah? Aku ingin kau tetap tertawa lepas. Lagipula teman-temanmu bilang kalau kau mengenalkan dia sebagai kekasihmu sewaktu kita masih punya perbincangan mesra lewat telepon. Kau bahkan sudah menyingkirkanku lebih lama sayang. Tapi yang kudapat malah jauh berbeda. Yang kuharapkan setelah aku melepasmu adalah agar kau bisa mewujudkan hubunganmu yang tertunda dengan perempuan itu. Tapi terlampau kecewa saat aku mendapati status hubunganmu yang baru dengan perempuan yang berbeda lagi. Sayang aku melepaskanmu agar kau dapati bahagia dengan siapa yang terus kau temui di belakangku, kenapa malah orang baru yang menggantikanku?

Jangan rela lepaskan cinta demi orang ketiga. Lirik lagu itu terus kuingat bahkan kudengarkan sepanjang hari. Sampai hati kau mengingkari kepercayaanku. Kurasa aku tak pernah ragu dengan siapa yang kuharapkan akan menjemputku ke bandara kalau pulang di liburan semester, itu kamu.

Aku selalu membangunkanmu di waktu pagi, mengingatkanmu sarapan, menelepon untuk memastikan kesehatanmu. Aku selalu menyemangatimu saat kau menjalani test masuk kepolisian. Membujukmu pulang ke rumah saat kau merajuk pada keluargamu. Bela-belain minta tolong teman untuk mengantarkanku mengunjungi kost-kostanmu. Mengingatkanmu makan dan istirahat yang banyak sewaktu sakit. Bangun jam 4 pagi untuk menyiapkan nasi goreng yang tidak pedas sesuai kesukaanmu. Bolos bimbingan agar bisa berpetualang bersamamu. Berkeliaran seharian untuk mencari kado yang pas sebelum keberangkatanku ke Kota Malang. Katakan sayang apa dia pernah melakukan hal lebih dari itu padamu?

Pernah memilihmu adalah sesuatu yang tak pernah aku sesali, meski pun aku sadari sendiri bahwa aku telah tolol masih merindukan orang yang telah menghianatiku. Lalu aku kembali bertanya, kenapa dulu kita pernah saling suka? Kenapa dulu kita harus memutuskan untuk menjalin tali cinta? Bukan menyesali. Tapi rasa-rasanya aku berpikir kalau lebih baik kita tetap menyayangi sebagai sahabat saja. Biar aku tak kan pernah merasakan kehilanganmu. Setelah perpisahan itu kita semakin menjauh. Tak pernah kudapati kabar tentangmu. Dan tak mungkin aku yang menanyakan tentangmu juga. Yang kutahu kau masih dengan orang baru itu, perempuan yang menggantikanku.

Rabu, 27 Agustus 2014

MURSALA

Tiga hari yang lalu. Tertanggal 24 Agustus 2014. Rasanya dunia benar-benar tak berpihak padaku. Bagaimana tidak? Aku diharuskan berpisah dengan dia yang kusayang karena suatu masalah yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Suatu masalah yang begitu mengunci mulutku untuk berkata-kata. Aku angkat tangan. Belum pernah menghadapi masalah yang sebegitu sulitnya, kecuali melihatnya di dalam film berjudul Mursala

Adat, marga, kekeluargaan. Orang Batak memang suku yang sampai sekarang masih memegang erat budayanya. Apalagi di tempat kami yang masih berdampingan dengan asal-usul marga, kekerabatan, dan masih akrab dengan yang namanya adat. Sulit ditentang. Peraturannya banyak dan susah dipahami jika tak benar-benar dipelajari. Temanmu, sahabatmu, musuhmu, bahkan seseorang yang sama sekali tidak kau kenali, bisa saja dia saudaramu jika salah satu atau lebih marga di lingkup keluarga kalian berada di garis keturunan yang sama.

Malam itu hujan turun lumayan deras. Dia mengirimiku pesan lewat BBM dan mengatakan sesuatu yang kami berdua tak suka sama sekali. Kebetulan saat itu aku sedang bersama temanku, kami ada di teras rumahku, menunggui hujan reda agar dia bisa pulang segera. Pesan yang kuterima kemudian kuberitahukan kepada temanku, dan kami langsung berangkat menemui dia untuk membicarakan hal penting yang menurutku gila itu.

Hujan masih saja turun. Seakan dia ingin selalu menemaniku di dalam masalah yang sedang menggeluti itu. Hujan kali itu sedikit membantu, setidaknya aku merasa lebih nyaman bercakap-cakap dengan kekasihku. Apa yang salah? Siapa yang mengira bahwa kami akan atau dipaksa berpisah karena masalah marga? Jujur aku sendiri tak terlalu mengerti tentang masalah pelik seperti itu. Yang pasti, katanya itu terlarang. Cepat atau lambat kami juga akan berpisah. Dan yang benar saja, perpisahan itu bahkan datang terlalu cepat.

Pernahkah terbayangkan bagi kita untuk kehilangan seorang yang kita sayang karena masalah yang sama sekali tak pernah kita bayangkan? Aku menggenggam tangannya seolah tak mengijinkan masalah itu membawa dia pergi dari hidupku. Ditemani lagu Someone Like You yang dibawakan oleh Adele, malam itu betul-betul menjadi malam romantis yang terseram yang pernah ada. 

Sayang, aku benar-benar angkat tangan. Kenapa sesuatu yang baik itu tidak bisa menetap tinggal saja dalam hidup kita? Memilih antara ya dan tidak, mana aku sanggup! Aku tak pernah mau kehilangan sesuatu yang kuanggap tak pantas untuk pergi. Jika aku memang harus memilih, lebih baik aku berkata tidak tahu. Aku tak mau mengucapkannya, aku tak tahu apa-apa, dan aku tak pernah suka untuk mengakhirinya dengan cara seperti itu.

Aku hanya tak habis pikir. Aku masih terjebak di dalam waktu, menunggui akhir bahagia untuk aku bisa memberikan nilai seperti apa yang kau sebutkan dulu, menungguimu memimpinku berdoa sebelum tidur, menungguimu menyanyikanku lagu yang khusus kumintakan hanya darimu, dan masih banyak penantian lainnya. Dan menurutmu aku bisa mengucapkan "iya" seketika saja dan kemudian aku harus merelakan semua penantian itu tak kan pernah terjadi lagi? Maaf, aku sungguh tak bisa sama sekali. Aku tak suka mengucapkannya. Aku juga minta maaf jika bertingkah kurang dewasa malam itu. Aku tak setangguh yang selalu kuucapkan sayang. Bahkan saat itu aku benar-benar lemah. Terasa sangat sesak di ruangan seluas itu.

Akhirnya apa yang harus terjadi pun terjadi. Memulai hidup yang baru bersamanya dengan embel-embel kata pertemanan di antara kami, just it, tak lebih. Aku sungguh tak menyangka. Akhirnya menjawab "iya" meskipun sangat tak rela. Air mataku pun mulai menetes mengikuti titik-titik hujan yang juga belum reda. Beberapa kali kilat menyambar di luar, cahayanya sampai ke dalam mengirimkan seberkas sinar di wajah kami yang begitu lelah. Kulepaskan tangannya, berharap dia akan mendapatkan yang lebih baik dariku, meskipun hati sebenarnya tak rela.

Jam pun mendekati pukul setengah sembilan. Aku diantar pulang olehnya. Hujan belum juga reda. Masih setia menemaniku bahkan di sepanjang perjalanan ke rumah. Aku cuma terdiam, tak berkata apa-apa kecuali saat dia mengkhawatirkanku karena sudah terlalu basah. Dihentikannya motor itu saat kami sudah sampai di simpang rumahku. Dia masih memintaku untuk segera mengganti pakaian setelah masuk ke dalam rumah, aku sudah terlalu basah, tapi tak berarti apa-apa bagiku, justru aku mengkhawatirkannya karena dia pulang tanpa jaket, dan hujan juga masih berlanjut. Seiring kepergiannya, aku berjalan ke dalam rumah. Rasanya sangat sulit untuk melangkah. Aku masih saja tak habis pikir. Beberapa saat yang lalu aku masih menggenggam tangannya sebagai seorang kekasih, dan saat ini, baru saja dia mengantarku pulang sudah sebagai mantan. 

Patah hati bukan lagi sekali dua kali kualami. Sudah sering. Tapi mengapa saat terjadi lagi, rasanya seperti terluka untuk pertama kali? Rasanya aku seperti lupa bagaimana cara bernafas dengan baik. 

Sebelum tidur, dia masih mengirimiku pesan. Mengucapkan selamat malam dengan cara yang tak biasa, tak lagi sama. Dalam hati aku masih memanggilnya sayang, meskipun balasan yang kukirimkan hanya menyebutkan namanya. Selamat malam dunia, terima kasih atas ketidakberpihakan ini. Sudah puaskah?

**************

Kamis, 21 Agustus 2014

Don't Cry. Just Say "Fuck You" and Smile

Semua orang terlahir berbeda. Yang jelas, semuanya punya kelebihan dan kekurangan. Itu pasti. Sebagian dari kita hanya menyadari kekurangan tanpa bersyukur lebih banyak akan kelebihan. Terkadang kita hanya terfokus untuk mengurus kekurangan-kekurangan itu untuk menjadikan diri kita tampak lebih sempurna di hadapan orang lain. Padahal kalau kita mau sedikit saja berusaha untuk mengembangkan kelebihan kita terlebih dulu, kesempurnaan itu harusnya sudah ada dalam genggaman tangan kita. Kita hanya perlu bersyukur dengan "apa yang telah ada". Tidak terlalu berfokus pada apa yang seharusnya kita punya. Tapi lebih kepada "kita punya apa" dan "bagaimana mengembangkannya".

Terserah orang lain mau berkata apa. Jadilah dirimu sendiri. Kamu tak perlu terlihat sama dengan orang lain. Belum tentu orang lain itu lebih baik dari dirimu sendiri. Jangan selalu melihat ke atas, karena masih banyak yang berada jauh di bawahmu. Hidupmu indah, yakinlah!

Kadang kita hanya bisa menangis cengeng seperti merasa kalah dalam sebuah permainan besar. Memang penting dalam beberapa situasi. Untuk membuat kita merasa lebih lega. Tapi kadang kita juga harus bersikap lebih dewasa, jangan terlalu bodoh. Kita harus sudah mulai bertanya, untuk apa? Hidup terlalu berharga kan untuk ditangisi? Mengeluh yang berlebihan justru akan menyiksa diri sendiri. 

Bangkitlah. Kembangkan apa yang kamu punya. Jangan dengar orang lain berkata apa. Saat mereka mendukungmu, rangkullah dan berjuang bersama. Saat mereka mulai mengolok, biarkan mereka bersuara sekeras apa pun. Karena ketika kesuksesanmu akan tiba, mereka akan terdiam sendiri dan bertepuk tangan dari barisan yang kau tak bisa lihat. Tersenyumlah. Seperti kutipan yang pernah saya baca: "Don't cry. Just say fuck you and smile". Selamat mencoba.

Kenapa Harus Berubah?

Kutahu hati tak akan bisa berdusta. Kadang kita hanya bisa mengelak dari ucapan saja, tapi yakinkah bahwa hati akan berkata serupa? 

Tak tahu kenapa. Mungkin karena pengalaman di waktu lampau menjadikan ku terlalu bersikap hati-hati dalam bertindak. Salah memang. Menjadikan apa yang kupunya sekarang seolah akan serupa dengan yang telah lalu itu. Aku hampir kehilangan diriku yang sebenarnya. Aku takut menghancurkan semua ini hanya karena kecemasan yang kutuntun dari pengalaman pahit yang cuma menggoreskan luka.

Seringkali aku mencoba meletakkan kisah ini jauh di atas cerita yang lain. Tapi kenapa kadang sulit? Mereka terlalu terngiang di setiap langkahku. Aku tak bebas menjadi diriku sendiri. Kucoba berlari, tapi aku hanya bisa merangkak. Kucoba berteriak, tapi aku hanya bisa berbisik. Aku ingin pulang. Pulang kepada diriku yang seperti dulu. Di sini terlalu sesak. Bahkan amat sangat.